Showing posts with label art. Show all posts
Showing posts with label art. Show all posts

Thursday, 27 October 2011

Jenis-jenis Seni Tari yang Terdapat di Malaysia



Malaysia, sebuah negara harmoni yang terdiri daripada berbilang kaum dan agama memiliki keunikan seni tarian yang tersendiri.
Di sini, kami ingin berkongsi beberapa jenis tarian yang menjadi kebanggaan semua warga Malaysia.

1. Tarian Zapin


Tarian yang terkenal di negeri Johor ini dikatakan telah dibawa masuk dari Hadramaut, Yaman oleh para pedagang Arab pada awal abad ke-16. Zapin telah dijadikan tarian hiburan di istana. Pada masa itu, negeri Johor telah menggantikan peranan Melaka sebagai pelabuhan entreport pada abad ke-16. Tarian ini mementingkan pergerakan berkumpulan. Antara alat muzik yang mengiringi tarian zapin adalah gambus, rebana, gendang, rebab dan marakas.




2. Tarian Singa

Tarian Singa merupakan sejenis tarian tradisional kaum Cina.Tarian ini biasanya ditarikan semasa perayaan-perayaan kebesaran masyarakat Cina seperti Tahun Baru Cina. Kaum Cina mempercayai bahawa tarian ini boleh membawa tuah. Ditari oleh 2 orang dan diiringi oleh alat muzik seperti gendang, gong & dentuman bunga api. Banyak menggunakan warna-warna yang dikatakan bertuah seperti warna merah, jingga & kuning.



3. Tarian Bharata Natyam

Tarian Bharata Natyam merupakan tarian tradisional kaum India. Tarian tradisi ini memerlukan latihan bertahun-tahun untuk menguasainya. Terdapat enam peringkat persembahan ini iaitu Alarippu, Jatiswaram, Sabdam, Varnam, Padam dan Thillana. Tarian ini berasal daripada wilayah Tamil Naidu di Selatan India.



4. Tarian Kuda Kepang


Diwarisi dari Jawa, tarian ini turut memngandungi pengaruh Islam. Pakaian penari-penarinya diadaptasi daripada kebudayaan Jawa. Unsur Islam terserlah jelas pada jalan cerita tarian ini kerana ia mengisahkan situasi peperangan pada zaman Nabi Muhammad dan para sahabat baginda. Tarian ini diperkenalkan oleh pendakwah Islam untuk menarik perhatian penduduk setempat datang beramai-ramai untuk menyaksikan persembahan mereka. Pendakwah akan berdakwah sebelum atau selepas persembahan tarian kuda kepang.








Sumber foto : budayaftmelayu.blogspot.com



5. Tarian Sumazau

Tarian yang terkenal di Sabah ini merupakan tarian tradisi suku kaum Kadazandusun yang sering dipersembahkan sempena perayaan Tadau Kaamatan atau Hari Menuai yang diraikan pada hujung bulan Mei setiap tahun.

Pergerakan tarian ini adalah ilham daripada corak penerbangan burung helang yang disaksikan oleh para petani yang berehat di sawah pada musim menuai.

Tarian ini ditarikan sebagai tanda kesyukuran, menolak bala, menyemah semangat dan mengubati penyakit.

Kini tarian sumazau banyak dipersembahkan sempena majlis perkahwinan dan majlis keraian menyambut ketibaan orang-orang kenamaan.

Sumber foto: kotabelud.pid.net


Jenis Seni Tradisional

Jenis seni tradisional diindonesia bermacam macam mulai dari alat tabuh,alat tiup,alat gesek,alat petik,seni tari dan permainan.dan hal sekian banyak tersebut memberikan kita suatu wawasan yang sangat berguna mulai dari sini saya akan membahas Seni Tradisional mUlai dari alat tabuh.

1.Seni Tradisional alat tabuh terdiridari 3 jenis.diantaranya Gamelan,Gendang dan Marwas
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, “Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa. Jenis-jenis Gamelan ada Gemelan,jawa,bali,sunda,Banyuwangi,banjar dll yang lainnya adalah Gendang dan marwas untuk keduanya saya belum mendapatkan data-datanya.
2.Jenis Tradisional alat Tiup terdiri dari suling dan Serunai.
tentang seruling :
Flute adalah instrumen musik dari keluarga woodwind. Suara flute berkarakter lembut dan dapat dikombinasikan dengan instrumen lainnya dengan baik.
Flute modern untuk profesional umumnya terbuat dari perak, emas atau kombinasi keduanya. Sedangkan flute untuk student umumnya terbuat dari nikel-perak, atau logam yang dilapisi perak.
Flute concert standar di-pitch di C dan mempunyai jangkauan nada 3 oktaf dimulai dari middle C. Akan tetapi, pada beberapa flute untuk profesional ada key tambahan untuk mencapai nada B di bawah middle C. Ini berarti flute merupakan salah satu instrumen orkestra yang tinggi, hanya piccolo yang lebih tinggi lagi dari flute. Piccolo adalah flute kecil yang di-pitch satu oktaf lebih tinggi dari flute concert standar. Piccolo juga umumnya digunakan dalam orkestra.
Flute concert modern memiliki banyak pilihan. Thumb key B-flat (diciptakan dan dirintis oleh Briccialdi) standar. B foot joint, akan tetapi, adalah pilihan ekstra untuk model menengah ke atas dan profesional.
Open-holed flute, juga biasa disebut French Flute (di mana beberapa key memiliki lubang di tengahnya sehingga pemain harus menutupnya dengan jarinya) umum pada pemain tingkat konser. Namun beberapa pemain flute (terutama student, dan bahkan beberapa pemain profesional) memilih closed-hole “plateau” key. Student umumnya menggunakan penutup sementara untuk menutup lubang tersebut sampai mereka berhasil menguasai penempatan jari yang sangat tepat.
Beberapa orang mempercayai bahwa open-hole key mampu menghasilkan proyeksi suara yang lebih keras dan lebih jelas pada nada-nada rendah.
Concert flute disebut juga Boehm flute, atau flute saja.
3.Jenis Tradisional alat Gesek yang terdiri dari rebab
Rebab,(Arab: الرباب or رباب juga dilapalkan sebagai :rebap, rabab, rebeb, rababah, al-rababa ) adalah alat musik gesek yang biasanya menggunakan 2 atau 3 dawai, alat musik ini banyak di temukan di negara-negara Islam.
Alat musik yang menggunakan penggesek dan mempunyai tiga atau dua utas tali dari dawai logam (tembaga) ini badannya menggunakan kayu nangka dan berongga di bagian dalam ditutup dengan kulit lembu yang dikeringkan sebagai pengeras suara
4.Jenis Tradisional alat petik
Siter dan celempung adalah alat musik petik di dalam gamelan Jawa. Ada hubungannya juga dengan kecapi di gamelan Sunda.
Siter dan celempung masing-masing memiliki 11 dan 13 pasang senar, direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri khasnya satu senar disetel nada pelog dan senar lainnya dengan nada slendro. Umumnya sitar memiliki panjang sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak ketika dimainkan, sedangkan celempung panjangnya kira-kira 90 cm dan memiliki empat kaki, serta disetel satu oktaf di bawah siter. Siter dan celempung dimainkan sebagai salah satu dari alat musik yang dimainkan bersama (panerusan), sebagai instrumen yang memainkan cengkok (pola melodik berdasarkan balungan). Baik siter maupun celempung dimainkan dengan kecepatan yang sama dengan gambang (temponya cepat).
Nama “siter” berasal dari Bahasa Belanda “citer”, yang juga berhubungan dengan Bahasa Inggris “zither”. “Celempung” berkaitan dengan bentuk musikal Sunda celempungan.
Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan. Jari kedua tangan digunakan untuk menahan, dengan jari tangan kanan berada di bawah senar sedangkan jari tangan kiri berada di atas senar.
Siter dan celempung dengan berbagai ukuran adalah instrumen khas Gamelan Siteran, meskipun juga dipakai dalam berbagai jenis gamelan lain.
5.Seni Tradisional Drama dan Seni terdiri Dari Bangsawan,Ketoprak,Lenong,Ludruk,wayang dLL Dimulai dari Seni Bangsawan.
Bangsawan adalaah kelas sosial tertinggi dalam masyarakat pra-modern. Dalam sistem feodal (di Eropa dan sebagainya), bangsawan sebagian besar adalah mereka yang memiliki tanah dari penguasa dan harus bertugas untuknya, terutama dinas militer.
Bangsawan segera menjadi kelas turun-temurun, terkadang dengan hak untuk memberikan gelar turun-temurun dan memiliki hak keuangan dan lainnya.
Istilah buat bangsawan, darah biru adalah terjemahan dari frase Spanyol sangre azul, yang menggambarkan keluarga kerajaan Spanyol dan bangsawan tinggi lainnya yang menyatakan diri ‘murni’ keturunan Visigoth, bebas dari darah Moor atau Yahudi. Tidak ada hubungan antara frase itu dengan warna darah bangsawan yang sebenarnya; namun di masyarakat petani kuno Eropa semua kelas atas memiliki pembuluh balik di permukaan kulitnya sehingga kelihatan dan nampak kebiru-biruan dibandingkan kulit sekitarnya yang pucat kmerahan, karena kulit itu sendiri tak disamak.
Sekarang, di sebagian besar negara, “status bangsawan” tak memiliki privilese resmi; kecuali di Britania Raya
selanjutnya Ketoprak.

Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.
Beberapa tahun terakhir ini, muncul sebuah genre baru; Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Dalam pentasan jenis ini, banyak dimasukkan unsur humor.Selanjutnya
Lenong adalah teater tradisional Betawi. Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi.

Sejarah

Lenong berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti “komedi bangsawan” dan “teater stambul” yang sudah ada saat itu. Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an.
Lakon-lakon lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot cerita yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh.
Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Selanjutnya, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.
Setelah sempat mengalami masa sulit, pada tahun 1970-an kesenian lenong yang dimodifikasi mulai dipertunjukkan secara rutin di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain menggunakan unsur teater modern dalam plot dan tata panggungnya, lenong yang direvitalisasi tersebut menjadi berdurasi dua atau tiga jam dan tidak lagi semalam suntuk.
Selanjutnya, lenong juga menjadi populer lewat pertunjukan melalui televisi, yaitu yang ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia mulai tahun 1970-an. Beberapa seniman lenong yang menjadi terkenal sejak saat itu misalnya adalah Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.

Jenis lenong

Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.
Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.
Pada perkembangannya, lenong preman lebih populer dan berkembang dibandingkan lenong denes.
Ludruk.
Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.
Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkotan, etc).
Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan “Pak Sakera“, seorang jagoan Madura.
Kartolo adalah seorang pelawak ludruk legendaris asal Surabaya, Jawa Timur. Beliau sudah lebih dari 40 tahun hidup dalam dunia seni ludruk. Nama Kartolo dan suaranya yang khas, dengan banyolan yang lugu dan cerdas, dikenal hampir di seluruh Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah.
Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik.
6.Seni tradisional dalam Bentuk Permainan terdiri dari Gasing,Karapan sapi,patok Lele,Pencak Silat,Sepak Takraw Dimulai Dari Gasing
Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.
Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.Next adalah
Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.
Kerapan sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura yang dinamakan saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang.
Pencak Silat atau Silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri) ialah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh.
Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), adalah nama organisasi yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara.
Mungkin masih banyak lagi jenis seni tardisional yang belum kita bahasa saya harapkan komentar dari anda2 sekalian agar kedepanya bisa lebih baik lagi.Terima kasih
Sumber wikipedia seni Tradisional

Aliran Seni Lukis



Surrealisme

Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.

Kubisme

Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.

Romantisme

Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.

Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.

Aliran lain

* Ekspresionisme
* Impresionisme
* Fauvisme
* Neo-Impresionisme
* Realisme
* Naturalisme
* De Stijl

Pelukis2 dari luar negeri
* Tomassi
* Donatello
* Leonardo da Vinci
* Michaelangelo
* Raphael

Pelukis2 daei dalam negeri
* Affandi
* Agus Djaya
* Barli Sasmitawinata
* Basuki Abdullah
* Djoko Pekik
* Dullah
* Hendra Gunawan
* Herry Dim
* Jeihan
* Kartika Affandi
* Lee Man Fong
* Otto Djaya
* Popo Iskandar
* Raden Saleh
* S. Sudjojono
* Srihadi
* Sri Warso Wahono
* Trubus

Semoga membantu

materi referensi:

wikipwdia

Khat Kufi

by Firdaus Mahadi



PENGENALAN KHAT KUFI

Khat Kufi merupakan sejenis khat yang popular selain khat Nasakh. Nama Kufi diambil bersempena dengan nama sebuah bandar iaitu al-Kufah yang terletak di Mesopotamia. Secara umumnya, ciri-ciri yang ada pada bentuk huruf khat Kufi adalah bersegi, tegak, dan bergaris lurus. Bentuknya yang berunsur geometri iaitu lurus dan tegak amat sesuai diukir di mozek-mozek, jubin dan batu pada bangunan-bangunan seperti masjid dan seumpamanya.

Khat Kufi merupakan asas kepada khat Arab. Ia telah mengalami perubahan daripada bentuk asalnya yang lurus dan tegak kepada bentuk-bentuk yang berbunga dan berdaun bersumberkan daripada bentuk tumbuhan-tumbuhan yang menjalar. Dengan dihiasi pelbagai variasi khat, telah terbentuk sejenis khat yang tidak lagi ditulis dengan menggunakan pen khat, tetapi dilukis dengan pensil, menggunakan kertas graf, pembaris dan juga alat jangka lukis.

Khat Kufi dijadikan sebagai tulisan al-Qur'an di peringkat awal. Khat Kufi mempunyai identitinya tersendiri kerana hanya ditulis oleh sesetengah khattat yang berjiwa seni. Huruf-huruf tunggal Kufi daripada alif hingga ya mempunyai ukuran, nisbah, kadar, dan bentuk yang pelbagai. Ketinggian dan panjang huruf ditulis oleh khattat mengikut kedudukan yang sesuai dalam teks.

Khat Kufi telah melalui empat peringkat perkembangan zaman sehingga sampai ke puncaknya. Pertama, Kufi Andalusi yang lahir di sepanjang zaman pemerintahan orang Arab di Andalusia pada tahun 752 Masihi. Kedua, Kufi Fatimi yang lahir pada zaman pemerintahan Kerajaan Fatimiyah yang memerintah Mesir dari tahun 909 sehingga 1171 Masihi. Ketiga, Kufi Ayyubi yang lahir pada zaman pemerintahan Kerajaan Ayyubi yang memerintah Mesir, Syria, dan Yaman dari tahun 1169 sehingga 1360 Masihi. Keempat, Kufi Mamluki yang lahir pada zaman pemerintahan Kerajaan Mamalik yang memerintah Mesir dari tahun 1250 sehingga 1517 Masihi.

Diantara jenis-jenis khat Kufi yang lain adalah khat Kufi Basit, khat Kufi Murabba', khat Kufi Musattar, khat Kufi Mutalasiq, khat Kufi Muwarraq, khat Kufi Muzakhraf, khat Kufi Madhfur, khat Kufi Muzayyin Nafsah, khat Kufi Muta’assir bil Rasm, dan khat Kufi Musyakkal. Kesimpulannya, dalam penulisan khat Kufi terdapat kepelbagaian dan pelbagai bentuk reka cipta. Penggunaan elemen hias dan kreativiti penulis semakin meningkat, tahap demi tahap sebagaimana yang dizahirkan melalui karya-karya agung mereka. Antara khattat yang terkenal dalam penulisan khat Kufi adalah Mahmud al-Hawari, Badawi, dan Muhammad 'Abdul Kadir. Di Malaysia, Ustaz Muhammad Asrak Hj Mohd Osman terkenal dengan penulisan khat Kufi melalui karya-karyanya yang tersergam indah di bangunan-bangunan sepertimana yang ada didalam Masjid Putra, Putrajaya ketika ini.


Mohammad Firdaus bin Mahadi
http://www.callidesign.com.my
http://www.firdausmahadi.com

Khat Diwani

by Firdaus Mahadi


Daripada Abu Zar r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda:
إِتَّقِ اللهَ حَيْثُماَ كُنْتَ، وأَتْبِعِ السَيِّئَةَ الحسَنَةَ تَمْحُهاَ، وَخاَلِقِ النَّاسَ بخُلُقٍ حَسَنٍ
Maksudnya:
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah kejahatan dengan mengerjakan kebaikan, nescaya menghapuskannya (kejahatan tadi). Dan berperangai kepada manusia dengan perangai yang baik”

PENGENALAN KHAT DIWANI 

Khat Diwani merupakan salah satu jenis khat yang dicipta oleh penulis khat pada zaman pemerintahan Kerajaan ‘Uthmaniyah. Ibrahim Munif adalah orang yang mencipta kaedah dan menentukan ukuran tulisan khat Diwani. Khat Diwani dikenali secara rasmi selepas negeri Qostantinopal ditawan oleh Sultan ‘Uthmaniyah, Muhammad al-Fatih pada tahun 857 Hijrah.

Khat Diwani digunakan sebagai tulisan rasmi di jabatan-jabatan kerajaan. Seterusnya, tulisan ini mula berkembang ke segenap lapisan masyarakat. Kebiasannya tulisan khat Diwani ini digunakan untuk menulis semua pekeliling pentadbiran, keputusan kerajaan serta surat menyurat rasmi dan pada masa sekarang ianya digunakan untuk menulis watikah, sijil dan untuk hiasan.

Khat Diwani terbahagi kepada 2 jenis iaitu Diwani biasa dan Diwani Mutarabit (bercantum). Akan tetapi, khat Diwani biasa yang banyak digunakan dan diamalkan oleh penulis-penulis khat terkenal berbanding khat Diwani Mutarabit. Asas bentuk bagi kedua-dua jenis khat Diwani ini adalah berbentuk bulat dan melengkung. Ianya ditulis dengan cara yang lembut dan mudah dibentuk mengikut kehendak penulis. Keistimewaan khat Diwani dapat dilihat pada kesenian bentuk hurufnya yang melengkung dan memerlukan kemahiran penulis khat itu menulisnya dengan lembut dan menepati kaedah. Hashim Muhammad al-Baghdadi dan Syed Ibrahim merupakan antara penulis khat yang terkenal dengan khat Diwani.


Mohammad Firdaus bin Mahadi
http://www.callidesign.com.my
http://www.firdausmahadi.com

Khat Diwani Jali

by Firdaus Mahadi


PENGENALAN KHAT DIWANI JALI

Khat ini dicipta oleh khattat Shahla Basya pada zaman pemerintahan Kerajaan 'Utmaniyyah. Khat ini dianggap sebagai kesinambungan daripada khat Diwani biasa. Khat ini dinamakan Jali yang bererti jelas kerana terdapat kelainan yang jelas dari segi bentuk tulisannya. Tujuan penggunaannya ialah untuk tulisan rasmi diraja dan surat-menyurat kepada kerajaan asing.

Bentuk hurufnya memenuhi ruang kosong sehingga membentuk satu ciptaan berupa geometri yang tersusun indah. Daripada jenis khat ini terciptalah bermacam-macam rupa bentuk hasil karya penulis-penulis khat yang mahir.

Khat Diwani Jali ini terbahagi kepada 3 jenis iaitu khat Diwani Jali Mahbuk, Diwani Jali Hamayuni, dan Diwani Jali Zauraq (bentuk Perahu). Khat Diwani Jali Mahbuk ditulis dengan menyusun huruf dan ragam hias dengan teratur dan dapat melahirkan bentuk tulisan yang indah, sepertimana pada contoh utnuk terbitan kali ini. Khat Diwani Jali Hamayuni pula biasanya ditulis oleh penulis-penulis khat Turki yang ditugaskan untuk menulis titah Sultan. Khat Diwani Jali Zauraq adalah jenis khat yang dipengaruhi oleh seni lukis. Kebanyakan penulis khat menghasilkan khat ini dengan menulis ayat-ayat sehingga membentuk seakan perahu atau kapal laut. Khat Diwani Jali Zauraq ini dikatakan agak mencabar dan sukar untuk menulisnya, ianya memerlukan kesabaran dan kreativiti yang tinggi dalam menghasilkan sesebuah karya.

Kesimpulannya, khat Diwani Jali ini dapat dilihat pada seninya bentuk tulisan, penyusunan huruf yang indah dan keserasian kalimah-kalimah yang diadun dengan begitu sempurna.


Khat Farsi

by Firdaus Mahadi


Sabda Rasulullah S.A.W:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Hadis diriwayatkan oleh Muslim
Makna hadith:
“Sesiapa yang melindungi maruah saudaranya yang Muslim, Allah akan melindungi maruahnya di dunia dan akhirat”.

PENGENALAN KHAT FARSI

Masyarakat Iran terutamanya dari golongan Samaniyah, sejak dahulu lagi amat berminat dengan kesenian yang merupakan warisan turun-temurun datuk nenek mereka. Mereka menulis menggunakan sejenis khat yang dinamakan khat Bahlawi sebelum kedatangan Islam ke Parsi. Nama khat ini diambil daripada perkataan Bahla sebuah tempat antara Asfahan dan Azerbaijan.

Setelah kedatangan Islam dari Semenanjung Arab ke Parsi dan pemerintahan Islam telah kukuh, masyarakat Iran pada masa itu telah menukar tulisan Bahlawi kepada tulisan Arab dan dinamakan dengan khat Ta’liq. Hakikatnya, orang Iran telah mengambil khat al-Qirmuz, iaitu khat yang digunakan untuk penulisan al-Qur’an pada masa itu dan kemudian menamakannya khat Ta’liq. Ada pendapat yang mengatakan bahawa kaedah tulisannya yang asal diambil daripada khat al-Tahrir, khat Riq’ah dan khat Thuluth.

Keindahan khat Farsi terletak pada bentuk lengkungan hurufnya yang menarik, kurangnya penggunaan garis menegak dan bentuk hurufnya yang condong ke kanan serta memanjang. Sesetengah hurufnya begitu mantap dan boleh disusun dengan begitu menarik serta mempesonakan. Khat Farsi ini setelah ditulis sepenuhnya dapat menyerlahkan kelembutan kaedah penulisannya dan dapat menunjukkan bagaimana telitinya seseorang penulis khat dalam menghasilkan sesebuah karya.

Khat Farsi terbahagi kepada 5 jenis iaitu khat Nasta’liq, khat Syekestah, khat Farsi Mutanazir, khat Farsi Mukhtazil, dan khat Farsi Mi’rat. Antara penulis khat yang terkenal dalam penguasaan khat Farsi ialah Imaduddin al- Syirazi, Muhammad As’ad al-Yasari, dan penulis buku kaedah khat Qawa’idul Khat ‘Arabi, Hasyim Mohammad al-Baghdadi.


Khat Riq'ah

by Firdaus Mahadi


PENGENALAN KHAT RIQ'AH 

Khat Riq’ah merupakan sejenis khat yang direka cipta oleh orang Turki pada zaman pemerintahan Kerajaan ‘Uthmaniyah (850 Hijrah). Tujuan utama mereka mencipta khat ini ialah untuk menyeragamkan bentuk tulisan dalam semua urusan rasmi di kalangan kakitangan kerajaan.

Riq’ah mengikut Kamus Bahasa ialah cebisan kertas yang ditulis. Ciri khusus khat ini ialah bentuk huruf yang kecil, lebih cepat dan mudah ditulis, jika dibandingkan dengan khat Nasakh. Penggunaan khat Riq’ah dalam masyarakat kita lebih tertumpu kepada tulisan dan nota sahaja, berbanding khat Nasakh yang begitu meluas digunakan, khususnya dalam penerbitan buku, majalah dan akhbar.

Justeru, beberapa langkah telah diambil untuk menjadikan khat Riq’ah dipelajari oleh murid-murid di sekolah dan dapat digunakan dalam urusan harian, seperti urusan surat-menyurat, urusan perniagaan, iklan dan promosi barangan serta dijadikan tajuk-tajuk besar di dalam akhbar.



Khat Thuluth

by Firdaus Mahadi



Daripada Anas bin Malik .a., sabda Rasulullah S.A.W.:

لاَ إيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عهْدَ لَهُ

Maksudnya :
“Tidak sempurna iman bagi orang yang tidak beramanah dan tidak sempurna agama bagi orang yang tidak menepati janji”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Hibban dan al-Baihaqi

PENGENALAN KHAT THULUTH

Thuluth bermaksud satu pertiga (1/3). Dinamakan Khat Thuluth adalah kerana Huruf menegaknya ditulis dengan mata pena yang ukuran lebar menyamai satu pertiga (1/3) lebar mata pen. Ia juga dikenali sebagai Khat Arab disebabkan peranannya sebagai sumber asasi pelbagai khat Arab yang lahir selepas Khat Kufi. Khat ini dikenali sebagai Ummul Khutut (Ibu tulisan) dan jarang digunakan dalam penyalinan al-Quran lengkap kerana mempunyai banyak kaedah, menentukan ukurannya dengan bilangan titik yang sesuai pada setiap huruf, agak rumit serta memerlukan kemahiran yang tinggi untuk menulisnya. Biasanya khat ini ditulis dengan pena yang lebar matanya diantara 2 hingga 3 mm.

Jika ia lebih lebar daripada itu maka orang-orang Turki memanggilnya tuqechah thuluth yakni thuluth yang dibesarkan. Kemudian ia dikenali dengan nama thuluth jali (sumber-sumber arab silam mensifatkan dengan panggilan jalil al-thuluth). Apabila mata pena lebih besar daripada saiz yang tetap pada pena yang biasa maka dibuat untuknya pena daripada kayu. Saiz-saiz tulisan jali berada pada kadar yang tangan manusia mampu memegang penanya (Qadi al-Askar Mustafa ’Izat Afandi dalam menulis loh-loh di masjid Aya Sufia menggunakan mata pena yang luasnya mencapai 35sm). Jika keadaan memerlukan tulisan-tulisan itu melebihi saiz tersebut atau bersaiz besar, maka ia ditulis mengikut saiz thuluth jali yang biasa kemudian dilakukan pembesaran (enlargement) mengikut kaedah empat segi atau menggunakan pelbagai peralatan teknologi yang terdapat pada hari ini seperti photocopy, komputer dan sebagainya.

Bentuk thuluth yang lebar mata penanya melebihi 6mm dinamakan Thuluth Jali, manakala yang melebihi 2mm ialah Thuluth Aadi. Ia diperkenalkan oleh Ibrahim al- Sajzi dan banyak digunakan sebagai seni hiasan di dalam masjid, nama surah dan hiasan kulit buku. Seseorang penulis khat tidak dianggap penulis yang mahir dalam seni ini sekiranya tidak benar – benar berkemahiran dalam bentuk Khat Thuluth.

Perhatian berat para ahli khat terhadap khat thuluth, khususnya khat thuluth jali sepanjang sejarah khat bukanlah merupakan satu perkara yang lahir secara mendadak. Khat ini dikenali dengan tulisan yang agak cantik. memandangkan ia tidak dapat ditulis secepat khat nasakh maka ia biasanya digunakan untuk tujuan-tujuan seni yang khusus, bukan untuk tujuan penulisan biasa. Oleh itu kita sering dapati khat ini dalam kepingan-kepingan seni, muraqqa’at dan loh-loh serta hasil kerja seni yang lain. Khat ini menyebabkan orang yang memandangnya akan membiasakan diri mereka dengan unsur keindahan dan gerakan yang tersusun.

Keistimewaan thuluth (khususnya thuluth jali) daripada segala jenis khat yang lain ialah ia boleh di letakkan dalam struktur-struktur dan rupa bentuk yang cantik seperti bulat, segi empat, bujur dan sebaginya. Para jurukhat yang menitikberatkan khat ini sering melakukan pembaharuan struktur (olahan) dengan khat ini yang merangkumi dua lapisan huruf atau lebih yang sebahagiannya diletakkan di atas sebahagian yang lain mengikut susunan bacaan. Ini merupakan kerja yang sangat sukar, hanya mampu dilakukan oleh jurukhat yang mahir dan berkaliber. kadangkala satu ungkapan ditulis dalam beberapa struktur yang mengandungi pelbagai bentuk dan tulisan. Peniruan sesetengah jurukhat terhadap struktur-struktur para jurukhat silam dan digunakan secara komersial tanpa menerangkan sumber yang beliau dapati sebenarnya merupakan pancabulan terhadap hak-hak mereka dan satu amalan yang tidak wajar.

Seni Khat Nasakh

by Firdaus Mahadi

Seni Khat mempunyai kedudukannya yang tersendiri bagi masyarakat Islam dan tamadunnya. Bermula dari turunnya wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad S.A.W, masyarakat Islam mula memberi perhatian yang khusus kepada bacaan dan tulisan. Tulisan kemudiannya berkembang dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik; bukan sahaja boleh dibaca tetapi lebih jelas dan kemas, bersistematik bahkan mampu menarik perhatian manusia lantaran keindahan gaya serta lengkokan bentuk huruf-hurufnya.

Seni Khat telah memberikan sumbangan yang besar kepada tamadun Islam secara keseluruhannya. Ia menjadi mangkin perkembangan ilmu naqli dan akli, ilmu keduniaan dan keakhiratan. Peranan Seni Khat yang teragung ialah apabila ia digunakan untuk menulis wahyu Allah bagi tatapan seluruh umat Islam, yang menjadikannya sebagai satu cabang seni dan ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari al-Qur'an itu sendiri.

Khat Nasakh telah menjadi pilihan utama dalam penulisan naskhah al-Qur'an di dalam dunia Islam, walaupun di sana terdapat pelbagai jenis gaya Khat sebelum dan selepas kewujudannya. Kelembutan, kejelasan serta keindahan khat ini telah mampu menarik perhatian masyarakat Islam lantas mengambil alih peranan penulisan al-Qur'an yang selama ini dipelopori oleh gaya Kufi.

Sejarah Khat Nasakh
Khat Nasakh dikatakan sebagai seni yang berasal dan berkembang dari tulisan Arab asli. Ia bermula dari asal Khat Arami, Nabati, kemudian dikenali sebagai Khat Hijazi sebelum kebangkitan dakwah Nabi Muhammad S.A.W. (Ibrahim Damrah, 1987) Tulisan ini melalui proses pengindahannya secara berperingkat-peringkat. Pada kurun ketiga dan keempat Hijrah, seorang menteri dari kerajaan Abbasiah - Ali bin Muqlah (272-328H) bersama saudaranya Abdullah, telah memperhaluskan tulisan ini dan mencipta satu kaedah yang dikenali kini sebagai Kaedah Penulisan Khat Nasakh. Ibnu Muqlah sendiri pada asalnya menamakan khatnya ini sebagai al-Badi' tetapi dikenali oleh ramai sebagai Nasakh, mungkin lantaran peranan yang dimainkan oleh khat ini. Ia menjadi terkenal terutamanya pada kurun kelima.(Maarof Zuraiq, 1985). Khat ini terus diminati dan mula dipelajari secara meluas. Semasa pemerintahan Atabikah (545 H) khat ini seterusnya melalui satu proses yang dikatakan sebagai proses pengindahan menyeluruh. Lantaran sumbangan Atabik tersebut, ada yang menggelar khat ini sebagai 'Khat Nasakh Atabik'.

Atabikah telah memainkan peranan yang penting dalam memartabatkan Khat Nasakh Di zaman ini selain melengkapkan keindahannya, mereka dikatakan sebagai yang bertanggungjawab menggantikan Khat Kufi kepada Khat Nasakh dalam penulisan al-Qur'an. Lebih dari itu, ia bukan sahaja digunakan dalam penulisan al-Qur'an, bahkan telah tersebar di timur dan barat dunia Islam, digunakan untuk pelbagai peranan dan di atas pelabagi media, menjadikan Khat Kufi mula dilupai atau kurang diminati.

Mengapa Dipanggil Nasakh
Ada beberapa pandangan mengenai nama Khat Nasakh. Ada yang mengatakan ia dinamakan Nasakh kerana tulisan ini digunakan untuk menaskhahkan - atau dalam kata lain- membukukan al-Qur'an serta pelbagai naskhah ilmiah yang lain sejak dari kurun pertama Hijrah lagi. Ia terus menjadi tulisan utama bahan-bahan ilmiah hingga ke hari ini samada di dalam akhbar, majalah, komputer dan sebagainya selain terus menjadi tulisan utama al-Qur'an. Bagi tujuan penulisan bahan-bahan ilmiah ini, terdapat dua aliran yang jelas iaitu

Nasakh Klasik dan Nasakh Akhbar

• Nasakh Klasik
Nasakh jenis ini merupakan gaya yang sampai kepada kita hasil tinggalan penulis-penulis khat terdahulu termasuklah tokoh yang terkenal iaitu Thnu Muqlah. Mereka telah membekalkan kaedah-kaedah penulisan khat jenis ini dengan begitu jelas dan terpeinci. Mungkin di sana terdapat beberapa perbezaan kecil antara penulis-penulis khat namun mereka tetap menjaga kaedah yang telah ditetapkan. Perbezaan kecil itu adalah dianggap sebagai lumrah manusia yang cenderong kepada bawaan atau kemahirannya. (AI-Bahi Ahmad Muhammad, 1993)

• Nasakh Akhbar
Nasakh Akhbar merupakan gaya Nasakh yang bentuk asalnya ditebal dan diperjelaskan sesuai dengan tujuan pembacaan umum. Tulisan ini diriamakan tulisan Nasakh Akhbar kerana penggunaannya yang meluas dalam lapangan persurat khabaran (Haji lainal Sakiban, 1998). la juga digunakan dalam pelbagai media cetak yang lain termasuk majalah, juga di dalam media elektronik sebagaimana ia digunakan dalam mesin taip atau komputer..

Selain dan pendapat pertama, ada pengkaji yang menjelaskan punca khat ini dinamakan sebagai Khat Nasakh ialah kerana peranannya. 1a telah me'nasakhkan yang beerti menghapuskan atau menggantikan penggunaan khat Kufi dalam penulisan wahyu Allah iaitu al-Qur'an. Setelah kemunculan khat Nasakh, khat Kufi tidak lagi digunakan untuk menulis al-Qur'an tetapi tempatnya telah diambil alih oleh Khat Nasakh.

Khat Nasakh Dalam Pertandingan
Sebagai satu jenis khat yang terlibat secara meluas dalam pendidikan, Khat Nasakh sering menjadi pilihan untuk dipertandingkan terutama di peringkat sekolah sehinggalah ke peringkat lebih dewasa. Ada beberapa perkara yang perlu diberi penekanan apabila menulis gaya ini apatah lagi jika dipertandingkan. Perkara yang perlu diberikan perhatian tennasuklah:

1. Memahami dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh penganjur.
Adalah perlu bagi peserta memahami peraturan yang ditetapkan, termasuklah dari penggunaan rasam Uthmani jika menulis ayat al-Qur'an dan pelbagai peraturan lain. Biasanya Khat Nasakh disempumakan dengan baris bacaan kecuali dalam menulis Jawi. Kaedah tulisan merupakan perkara yang paling penting untuk dijaga. Jangan sesekali mencampur adukkan dengan khat yang lain.

2. Bentuk yang dipilih dan ruang yang disesuaikan
Penulis sebaiknya merancang bentuk tulisan. Perlu tulisan itu disusun dengan keseimbangan dari segi bentuk, ruang dan keserasian perhiasan agar menjadi lebih menarik.

3. Ragam hias hendaklah tidak terlalu besar hingga mengganggu tulisan asal.
Begitu juga dengan tulisan Basmalah dan Sodaqallah, hendaklah ditulis dengan saiz yang kecil atau sederhana sahaja kerana fokus adalah kepada ayat yang ditentukan (Jainal Sakiban, 2000)

Penutup
Sesungguhnya Khat adalah tinggalan khazanah yang berkait secara langsung dengan al-Qur'an. Minat yang dipupuk terhadap seni Khat adalah diharapkan menjadi satu langkah dalam mendekatkan seseorang dengan khazanah al-Qur'an. Seharusnya Umat Islam tidak mencari keindahan di luar Islam kerana ia adalah agama yang lengkap bahkan juga melengkapkan keperluan kehidupan umatnya. Umat Islam juga seharusnya sentiasa merujuk kepada panduan al-Qur'an dan pimpinan Nabi agar membuat pertimbangan yang tepat dalam segala jurusan hidup mereka termasuk dalam bidang seni. Dengan menghalusi seni ini diharapkan akan menanamkan rasa cintakan Islam dan jangan pula berIaku sebaliknya, mengkaji Islam hanya kerana minatkan seni. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan sukakan keindahan.

Rujukan

• Ibrahim Damrah, 1987, ai-Khat al-Arabiy, Jordan: Maktabah al-Manar

• Ismail & Lois Lamya al-Faruqi, 1986, The Cultural Atlas of Islam, New York: Macmillan Publishing Company.

• Maarof Zuraiq, 1985, Kaifa Nu'allimu ai-Khat al-Arabiy, Damsyiq: Dar aI-Fila

• Kertas kerja al-Bahi Ahmad Muhammad, 1993, AI-Khat al-Arabiy, Madrasah Tahsin al-Khutut, Bab al-Sya'riyyah, Kaherah.

• Kertas kerja Haji Jainal Sakiban AI-Jauhari, 1998-2000, Seni Khat: Sejarah dan Perkembangannya, Persatuan Seni Khat Kebangsaan Cawangan Johor.

• Ahmad Sabri,1999, Tarikh ai-Khat al-Arabiy, Kaherah: Dar al-Fadilah
Berikut sumber dari :
Arabic Calligraphy @ Malaysia - Ustaz Abdul Baki

"
Dinamakan khat ini sebagai Khat Nasakh kerana tulisannya digunakan untuk menaskhahkan atau membukukan al-Qur’an serta pelbagai naskhah ilmiah yang lain sejak dari kurun pertama Hijrah lagi. Ia terus menjadi tulisan utama bahan-bahan ilmiah hingga ke hari ini samada di dalam akhbar, majalah, komputer dan sebagainya selain terus menjadi tulisan utama al-Qur’an.

Ada juga pendapat yang menjelaskan punca khat ini dinamakan sebagai Khat Nasakh ialah kerana peranannya menasakhkan yang beerti menghapuskan atau menggantikan penggunaan khat Kufi dalam penulisan wahyu Allah iaitu al-Qur’an. Setelah kemunculan khat Nasakh, khat Kufi tidak lagi digunakan untuk menulis al-Qur’an tetapi tempatnya telah diambil alih oleh Khat Nasakh.

Khat Nasakh dikatakan sebagai seni yang berasal dan berkembang dari tulisan Arab asli. Ia bermula dari asal Khat Arami, Nabati, kemudian dikenali sebagai Khat Hijazi.
Tulisan ini melalui proses pembaikannya dalam beberapa peringkat. Pada kurun ketiga dan keempat Hijrah, seorang menteri dari kerajaan Abbasiah iaitu Ali bin Muqlah atau lebih dikenali dengan Ibnu Muqlah bersama saudaranya Abdullah, telah memperhaluskan tulisan ini dan mencipta satu kaedah yang dikenali kini sebagai Kaedah Penulisan Khat Nasakh. Ia menjadi terkenal terutamanya pada kurun kelima. Khat ini terus diminati dan mula dipelajari secara meluas. Semasa pemerintahan Atabikah khat ini seterusnya melalui satu proses yang dikatakan sebagai proses pengindahan menyeluruh.

Lantaran itu ada yang menggelar khat ini sebagai ‘Khat Nasakh Atabik’.
Khat ini pada dasarnya lebih mudah daripada khat thuluth dan senang diajarkan kepada orang ramai, pelajar sekolah dan kanak – kanak sebagai asas untuk menulis khat atau jawi. Penggunaannya amat meluas sekali sehingga mesin menaip, komputer dan mesin cetak kebanyakannya menggunakan fon jenis Khat Nasakh. Ia sering digunakan dalam penulisan disebabkan sifatnya yang cantik dan mudah dibaca. Maka oleh sebab itulah Khat Nasakh amat praktikal digunakan untuk penyalinan mushaf al Quran, kitab-kitab, hadith, majalah, akhbar dan lain - lain lagi .


Pada kebiasaannya Khat Nasakh ditulis dengan saiz yang kecil dan tidak terlalu besar dengan kadar 1mm saiz pena."

Jenis-jenis Khat

by Firdaus Mahadi
Berikut adalah jenis-jenis khat yang sempat saya cari setakat ini, jenis-jenis khat ini saya dapati ada tercatat di buku-buku rujukan khat seperti buku dari Jawad Sabti, dan ada diantaranya saya dapati dari buku Sejarah Khat tulisan Ustaz Jainal Sakiban (Johor), dan juga beberapa buku rujukan khat yang ada dalam simpanan saya. 

Jenis-Jenis Khat
1. Nasakh
2. Nasakh Hadith
3. Thuluth
4. Thuluth Jali
5. Req’ah
6. Farisi @ Nasta’liq
7. Dewani
8. Dewani Jali
9. Ijazah
10. Hurr
11. Kufi Murabba’
12. Kufi Muhaqqaq
13. Tajj
14. Tughrak
15. Nabti Arab
16. Hijazi @ Madani @ al-Darij
17. al-As’ar
18. Asyribah
19. al-Sami’i
20. Narjisi
21. Thuluthain
22. Tumar
23. Hafifuth Thulus
24. Riqa’
25. Tauqi’
26. Thaqil Thuluth
27. Mufattah
28. Zamburi
29. al-Haram
30. al-Uhud
31. Sijillat
32. Mu’amarat
33. al-Mansyur
34. al-Dibaj
35. Syami
36. al-Jalil
37. al-Mudammirat
38. al-Khirfaj
39. al-Marsa’
40. al-Riasi
41. Nasakh Khafif
42. al-Qhabbar
43. al-Nisf
44. Nisf Khafif
45. al-Haliyah
46. al-Mudawwar al-Kabir
47. Musalsal
48. Musalsal al-Tauqi’
49. Ghubar al-Hibah
50. al-Muhammad
51. al-Hawaiji
52. al-Qasas
53. al-Jinah
54. Thuluth Khafif
55. Raihan
56. Muhaqqaq
57. Zahab
58. al-Matan
59. Muqlah
60. Thuluth Mu’tad
61. Lu’lui
62. al-Asy’ar
63. al-Wasy
64. al-Mudammij
65. Mu’allaq
66. al-Muqtarin
67. Siaqat Sumbulu
68. Kufi Bassit
69. Kufi Musattar
70. Kufi Musyakkal
71. Kufi Muwarraq
72. Kufi Muzahraf
73. Kufi Muzaiyan
74. Kufi Madhfur
75. Kufi Andalusi
76. Kufi Mamluki
77. Sahifah
78. Thuluth Mahbuk
79. Thuluth Handasi
80. Thuluth Mutanazir
81. Syekestah
82. Farsi Mutanazir
83. Farsi Mukhtazil
84. Diwani Mutarabit
85. Dewani Jali Hamayuni
86. Dewani Jali Zauraq

Sumber:
Seni Khat, Keindahan Dalam Kepelbagaian “Sejarah, Tokoh dan Karya”
oleh Jainal Sakiban
ISBN 983-066-202-0
Synergymate Sdn Bhd

Buku Khat Jawad Sabti
Buku-buku rujukan Khat (koleksi rujukan persendirian)


al-Haqir ila Allahi Bari,