Showing posts with label PSIKOLOGI. Show all posts
Showing posts with label PSIKOLOGI. Show all posts

Thursday, 1 December 2011

Tips Menghindari Kejahatan Hipnotis


 
Netsains.Com -Hipnotis adalah salah satu teknik yang membawa seseorang masuk ke dalam alam bawah sadar. Akhir-akhir ini hipnosis mulai dikembangkan untuk terapi berbagai gangguan psikologis ataupun fisik (baca : Hypnotherapy).
Hipnosis pada prinsipnya adalah positif, membantu orang mengatasi masalahnya dan menyelesaikan konflik-konflik tak sadarnya yang menimbulkan masalah bagi seseorang. Namun tak sedikit pula yang menggunakan hipnotis untuk melakukan kejahatan. Penipuan, atau memaksa kita membeli sebuah produk yang ternyata setelah sampai di rumah kita menyesal karena sesungguhnya kita tidak membutuhkan produk tersebut, tapi saat di mall tadi entah kenapa tiba-tiba membelinya. Ya benar, saat itu mungkin secara tidak sadar kita terhipnotis. Lalu bagaimana menghindari kejahatan dengan menggunakan media hipnotis? Berikut beberapa tips untuk menghindari kejahatan hipnotis:
  • Pastikan Critical Factor kita tertutup.
Dalam kondisi sadar saat ini, kita berada pada gelombang beta. Sedangkan dalam keadaan pra-sadar, kita berada pada gelombang alpha. Untuk masuk dari beta ke alpha, seseorang membutuhkan kondisi yang sangat rileks, penuh kosentrasi, lalu dengan mudah kita akan masuk ke alam bawah sadar. Critical Factor adalah sebuah gerbang yang menghubungkan antara alam sadar dan alam bawah sadar. Critical factor ini dapat terbuka saat kondisi kita sedang rileks, penuh konsentrasi, bingung, sangat emosional (marah, sedih), atau mendengarkan sesuatu dari orang yang kita percayai. So.., tutuplah critical factor kita dengan melakukan hal yang berkebalikan dari hal di atas ketika kita berada di area publik agar tidak mudah terhipnotis.
  • Jangan terlalu fokus/ konsentrasi pada suatu hal.
Salah satu hal yang dapat membuka critical factor kita adalah konsentrasi penuh. Sehingga, agar critical factor kita tidak terbuka berusahalah untuk tidak terlalu fokus ketika menyaksikan hal baru yang kita jumpai di luar. Bisa jadi kita sengaja dibuat terpukau pada sebuah pertunjukan atau aksi mereka, lalu secara tidak langsung kita terhipnotis untuk membeli produk mereka.
  • Selalu menganalisa.
Kita akan mudah terhipnotis oleh orang yang sangat kita percaya, dibandingkan dengan ketika kita berhadapan dengan orang baru yang tidak kita kenal. Saat kita percaya, kita akan dengan mudah menerima sugesti dari orang yang kita percaya. Oleh karenanya, agar tidak mudah terhipnotis maka selalulah menganalisa setiap hal yang dikatakan orang ke kita benar tidaknya, ilmiah atau tidak. Misalnya ada yang mempromosikan produk mereka bahwa kulit kita akan terlihat putih cemerlang dalam waktu 2 hari jika memakai krim produk mereka. Saking inginnya punya kulit yang cantik, kemudian kita beli saja sebab yang menawarkan produk itu seorang perempuan yang cantik dan berkulit putih. Jika mau menganalisa, coba ambil waktu sejenak untuk ambil nafas dan berfikir.
Mungkin tidak krim yang dijual dengan harga murah, dapat membuat kuliah sehat, padahal kulih kita sangat gelap sehingga tidak mungkin rasanya dapat putih dalam 2 hari. Ketika kita mulai ragu-ragu dan ada pikiran-pikiran jika itu “tidak mungkin” saat inilah daya analisa kita berjalan.
  • Jangan mudah percaya pada orang yang baru kita kenal.
Melengkapi hal di atas, bahwa kita akan mudah dihipnotis oleh orang yang sangat kita percaya. Seorang cewek cantik, berkulit putih yang berbicara tentang kecantikan akan lebih kita percaya daripada seorang nenek-nenek tua. Seorang cowok berbadan atletis berbicara tentang kesehatan, kebugaran tubuh atau alat fitnes, akan lebih kita dengarkan daripada seorang kakek yang gemuk sekali. So.., kita musti lebih hati-hati ketika ketemu orang baru jangan mudah percaya dengannya. Teruslah menganalisa benar tidaknya apa yang diucapkan, agar kita tidak mudah terbawa suasana yang dapat menyebabkan critical factor kita terbuka.
  • Tidak ada yang mudah di dunia ini.
Satu hal yang kita selalu tanamkan bahwa “tidak ada yang mudah atau gratis di dunia ini”. Sehingga kita tidak akan terpukau atau bingung kita ketika ada orang yang menawarkan barang seharga 5 juta rupiah cukup dibayar 500 ribu saja dan kita sudah bisa bawa pulang barangnya karena hari ini promosi. Pasti akan ada embel-embelnya setelah itu. Mungkin kita diminta membeli produk lain yang harganya lebih mahal, atau bentuk-bentuk yang lain. Kita dibuat bingung ini juga merupakan sebuah cara untuk membuka critical factor kita tadi, tujuannya agar kita lebih percaya dengan yang disampaikan.
So.., kesimpulannya agar tidak mudah terhipnotis jangan terlalu fokus pada suatu hal agar kita tetap áware dan selalulah menganalisa agar kita tidak mudah tertipu atau terbawa suasana. Semoga bermanfaat..
Referensi :
Putra, D E. (2010). Pelatihan “Hipnotis dan Hipnoterapi”. Deep Trance Institute of Hypnotherapy. Yogyakarta.

Lebih Jauh Mengenal Hipnoterapi


Netsains.Com – Hipnoterapi merupakan aplikasi dari hipnosis, dimana terapi ini bekerja di alam bawah sadar dengan menggunakan strategi yang efektif untuk mengatasi masalah (Putra, 2010). Teknik ini pertama kali dipakai pada pasien yang mengalami histeria konversi (kelumpuhan) akibat konflik-konflik bawah sadarnya (Nevid, 2005).
Dasar teori teknik terapi ini adalah Psikoanalisa, yang menyatakan bahwa semua tingkah laku dan kepribadian seseorang terbentuk karena pengalaman masa lalu. Sehingga ketika terjadi gangguan atau patologis, akibat pengalaman buruk di masa lalunya. Teori ini berorintasi pada ketidaksadaran manusia, sehingga problem yang terjadi pun sebagian besar akibat pengalaman masa lalu atau konflik yang tidak disadari.
Tujuan utama terapi dengan pendekatan Psikoanalisa (salah satu tekniknya dengan Hipnoterapi) adalah mengungkap pengalaman-pengalaman yang tidak disadari oleh seseorang, guna ditemukan akar penyebab masalah, agar terapi yang diberikan tepat dan efektif. Karena bekerja pada alam bawah sadar, maka seseorang harus dibawa pada alam bawah sadarnya melalui hipnosis. Hipnoterapi mula-mula mencoba menemukan konflik-konflik yang tidak disadari, juga keyakinan-keyakinan yang salah akan sesuatu hal yang berdampak pada masalah yang dirasakan saat ini, mengajak klien menghadapinya dan akhirnya dapat mengatasi permasalahan utamanya. Misalnya, saat masih kecil seorang anak mengalami kejadian traumatik dimana ia melihat air bah menenggelamkan rumahnya, hewan kesayangan, bahkan semua mainan yang ia sukai.
Karena kemampuan kognitif dan daya nalar anak masih sangat terbatas, maka ia meyakini bahwa air bah itu jahat, menghilangkan semua kesenangannya, mainan dan hewan kesayangannya. Keyakinan ini yang ia bawa hingga dewasa, dan konflik masa lalunya tidak terselesaikan dengan baik. Akibatnya ia selalu ketakutan ketika melihat air yang alirannya agak deras, berteriak histeris, bahkan hingga gemetar dan keluar keringat dingin.
Hipnoterapi membawa seseorang untuk menemukan konflik masa lalu dan membenarkan keyakinan negatifnya, hingga ia bisa lebih menerima pengalaman buruk di masa lalunya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui. Jika masa itu seseorang menghadapi kejaidian buruk itu dengan penuh ketakutan dan sebagai pribadi yang rapuh, namun kali ini ia dihadapkan kembali pada peristiwa yang sama tetapi dalam kondisi yang rileks, sangat nyaman, dan sebagai pribadi yang lebih kuat karena telah dibekali beberapa teknik problem solving.
Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang sangat takut untuk menikah. Beberapa kali ia menjalin hubungan dengan laki-laki gagal karena ia tiba-tiba sangat ketakutan ketika pacarnya berbicara agak keras padanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, spontan saja ia menjauh dari pacarnya dan memutuskan hubungan. Hal ini terjadi setiap kali ia pacaran, hingga akhirnya ia tidak menemukan pasangan yang cocok baginya.
Dalam sesi Hipnoterapi ia diminta kembali ke masa lalunya dan akhirnya menemukan bahwa ternyata sejak kecil ia kerap kali dimarahi oleh ayahnya dalam setiap situasi yang dirasa kurang tepat menurut ayahnya. Ia ingin sekali berontak, tetapi ia tidak mampu karena tuntutan nilai-nilai agama yang kuat dipegangnya. Konflik dengan ayah yang tidak terselesaikan dengan baik ini berpengaruh pada hubungannya dengan lawan jenis.
Lewat sesi Hipnoterapi, ia diminta menyadari hal ini, berdamai dengan masa lalunya, kemudian meluapkan emosi-emosi negatifnya yang selama ini terpendam, hingga akhirnya ia dapat menerima kenyataan dirinya dan dapat memperbaiki hubungannya dengan lawan jenis.
Pada prinsipnya Hipnoterapi dapat digunakan untuk membantu mengatasi berbagai masalah, gangguan psikologis, atau bahkan penyakit fisik. Lebih spesifik lagi, ketika masalah yang dihadapi berkaitan dengan pengalaman buruk di masa lalu yang tidak disadarinya, teknik ini cukup efektif. Meskipun demikian, masalah-masalah ringan dalam kehidupan sehari-hari juga dapat dibantu dengan Hipnoterapi, antara lain:
  • Berhenti merokok.
  • Diet (menurunkan berat badan).
  • Kurang percaya diri.
  • Fobia atau ketakutan terhadap suatu hal.
  • Kecemasan.
  • Migrain, pusing.
  • Mengendalikan diri.
  • Sexual adict (kecanduan seks)
  • Latah
  • Melupakan pengalaman masa lalu yang buruk.
  • Menghilangkan nyeri (analgetik)
  • Bius (anestesi) saat operasi atau pengobatan luka.
  • Dan beberapa problem yang lain.
Hipnoterapi efektif untuk menyembuhkan penyakit fisik yang diduga sumber utamanya karena stressor psikologis. Misalnya kerap kali mengeluhkan pusing atau mual, tetapi hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya kelainan fisik. Kasus ini dapat dipastikan bahwa sumber penyakit adalah psikologis, sehingga hipnoterapi murni dapat diberikan untuk membantu menyembuhkan penyakit. Namun jika dimensi fisik dari penyakit berdasar pemeriksaan medis ditemukan adanya kelainan, maka pengobatan dimensi fisik juga tetap harus dijalankan. Hipnoterapi bekerja pada dimensi psikis untuk mengurangi sensasi sakit juga mengurangi stressor psikologis, makanan atau obat bekerja pada dimensi fisik untuk melengkapi pengobatan. Hipnoterapi untuk diet misalnya, sugesti selama sesi terapi membantu klien mengendalikan nafsu makan dan jumlah porsi makanan, tetapi bukan berarti ia tidak makan. Pasien harus tetap makan untuk nutrisi tubuhnya hanya saja dalam jumlah yang terkendali, jika tidak maka tubuh akan sakit. Akhir-akhir ini di luar negeri, hipnotis juga banyak dipakai untuk anestesi. Pembiusan sebelum operasi tanpa obat, juga untuk mengurangi rasa sakit ketika dilakukan tindakan medis pada luka kecelakaan lalu lintas atau luka bakar.
Referensi :
Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Green, E. B. (2005). Psikologi Abnormal (Terjemahan). Jakarta : Erlangga.
Putra, D E. (2010). Pelatihan “Hipnotis dan Hipnoterapi”. Deep Trance Institute of Hypnotherapy. Yogyakarta.
Putra, D E. (2010). Mahir Hipnosis Dalam 1 Hari. Jakarta: Publisher.

Darimana Anak Belajar ‘Marah’ ?


Netsains.com-Seorang ibu memintaku untuk mencarikan referensi tentang Tantrum. Lalu kutanyalah apa yang dia maksud dengan Tantrum agar persepsi kita sama. Lalu si ibu itu malah bertanya bagaimana mengatasi anaknya yang baru berumur satu setengah tahun yang kerap kali marah-marah tidak jelas. Tiba-tiba marah tanpa ada sebabnya, entah meminta sesuatu atau tidak. Lalu saya amati anaknya yang cukup aktif dan mulai gemar “mengoceh” ini. Ternyata definisi “Tantrum” yang disampaikan oleh si ibu ini sangat jauh merujuk pada perilaku marah pada anak yang luar biasa dan sulit dikendalikan. Si anak hanya sesekali marah tetapi tidak sampai tantrum.
Lalu saya tanyalah si ibu itu tentang perilakunya sehari-hari sekaligus menjawab pertanyaannya. “Apakah ibu sering marah di rumah?” Dijawabnya dengan tertawa dan mengiyakan jika ia sering marah kepada anak pertamanya. Perilaku inilah yang secara tidak langsung ditiru oleh anak ke duanya. Proses belajar inilah yang dalam ilmu Psikologi dikenal dengan istilah Modelling. Modelling adalah salah satu cara belajar anak dengan meniru perilaku yang ada dari lingkungannya, teman, orangtua, atau siapa saja yang ia lihat.
Cara yang paling mudah untuk mengajari anak kebiasaan baik pun dapat ditempuh dengan cara ini. Mencontohkan shalat lima waktu, gosok gigi sebelum tidur, merapikan tempat tidur, meletakkan kembali sepatu yang telah dipakai pada raknya, atau beberapa kebiasaan baik lainnya. Namun sayangnya, yang sering melekat pada anak justru hal buruk yang ia tiru dari lingkungannya. Misalnya tiba-tiba anak marah, mengeluarkan kata-kata kotor, meludah, membentak, yang bisa jadi kesemuanya itu tidak memiliki makna layaknya ketika dilakukan orang dewasa. Lebih parahnya lagi terkadang orangtua tidak menyadari jika hal ini terjadi sebagai proses belajar dari lingkungan, teman sebaya, tayangan di televisi atau bisa jadi dari orang tuanya sendiri. Mereka hanya mengeluhkan tiba-tiba anaknya selalu memukul temannya ketika meminjam mainan tidak diberi, atau tiba-tiba meludahi ayahnya tanpa sebab. Hal-hal seperti inilah yang kiranya orangtua perlu cermati darimana anak mendapatkan hal-hal ini dari lingkungannya. Perhatikan lingkungan sekitar anak, dengan siapa ia berinteraksi, dan hal-hal apa saja yang ia lihat. Masih ingat tragedi anak yang menghajar teman sekolahnya akibat ia sering menyaksikan tanyangan “Smack Down”? ini juga salah satu contoh dari proses balajar modeling dari lingkungan, lebih spesifik dari tanyangan televisi.
Lalu apakah semudah itu anak meniru semua perilaku yang ia lihat dari lingkungannya? Bandura (dalam Hall & Lindzey, 1995) tokoh yang mengemukakan teori ini menyebutkan beberapa tahapan hingga seseorang bisa meniru sebuah perilaku.
1. Atensi (perhatian)
Jika kita ingin mempelajari sesuatu, maka kita harus memperhatikannya dengan seksama. Semakin banyak hal yang mengganggu perhatian kita, maka proses belajar akan semakin lambat. Segala hal yang mudah sekali menarik perhatian kita, maka hal tersebut akan mudah sekali untuk kita perhatikan. Misalnya: diantara puluhan balon putih, ada sebuah balon merah. Balon merah ini akan lebih menarik perhatian kita dibandingkan balon yang lain. Seperti halnya ketika anak melihat perilaku baru yang pertama ia lihat, pasti hal ini akan juga menarik perhatiannya.
2. Retensi (ingatan)
Setelah memperhatikan sesuatu, maka seseorang akan menyimpan informasi atau hal yang diperhatikannya ke dalam ingatan. Informasi yang dipertahankan (diingat), suatu ketika dapat kita “panggil kembali” hal yang kita simpan tadi dalam bentuk perilaku. Misalnya saat pertama anak melihat ibunya membentak kakaknya, anak menyimpan memori ini, hingga suatu ketika ia akan melakukan hal yang sama.
3. Reproduksi
Sebuah proses menerjemahkan hal atau informasi yang telah kita simpan ke dalam perilaku aktual. Untuk dapat memproduksi sebuah perilaku tertentu, sebelumnya kita harus pernah melakukan sesuatu perilaku itu sebelumnya. Misalnya, bermain ski. Meskipun kita menonton seharian lomba ski, namun kita tidak dapat memproduksi perilaku bermain ski seperti yang diperagakan sebab kita tidak dapat bermain ski. Namun jika kita sebelumnya telah terlatih bermain ski namun belum mahir, maka kita hanya dengan menonton permainan itu dapat mereproduksi gerakan permainan ski yang lebih bagus.
4. Motivasi
Segala hal yang mendorong seseorang untuk melakukan sebuah perilaku tertentu. Kita tidak akan dapat melakukan apapun jika tidak ada motivasi dari dalam diri untuk meniru. Motivasi dapat timbul dari dalam diri atau dari lingkungan, dari dukungan lingkungan sekitar, atau dari sesuatu yang kita harapkan.
Dari empat tahap di atas, proses Reproduksilah yang kita sebut dengan modeling. Reproduksi hanya bisa dilakukan ketika memang kita mampu melakukan hal tersebut, dan hampir bisa dipastikan jika segala hal yang dilihat anak menarik (menimbulkan atensi/ perhatian), memori anak juga sangat bagus sehingga informasi yang ia terima mudah diingat (retensi), sehingga ia akan dengan mudah memproduksi kembali perilaku yang ia lihat dari lingkungan. Kesimpulannya anak mudah sekali meniru perilaku dari lingkungan. Kuncinya adalah, perhatikan dengan seksama lingkungan sekitar anak. Upayakan ia melihat hal-hal yang mendukung perkembangannya. Jika ditemukan hal-hal yang negatif, segera direduksi dengan menanamkan nilai-nilai dan makna-makna dari hal yang ia lakukan. Sebagai contoh bisa jadi anak meniru temannya mengatakan kata-kata kotor yang menurut kita hal ini buruk namun anak tetap saja melakukannya. Hal yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberikan pemahaman bahwa kata yang ia ucapkan ini tidak baik, maknanya ini (sebutkan jika memang kita tahu artinya), dan berikan kata pengganti yang lebih baik atau dirasa lebih sopan. Orangtua juga perlu kiranya berhati-hati ketika menampakkan hal-hal yang kurang tepat yang dapat ditiru oleh anak yang secara kognisi belum berkembang dengan baik. Misalnya marah di depan anak, membentak, duduk dengan kaki naik ke meja, menaruh barang tidak pada tempatnya, atau hal-hal lain yang dirasa kurang tepat.
REFERENSI
Boeree, G. 2005. Personality Theories. Terjemahan: Muzir, dkk. Yogyakarta: Primashopie.
Hall, C & Lindzey, G. 1995. Teori Sifat Behavioristik. Editor : A. Supratiknya. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Sumber gambar: http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2007/

Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya


Masa yang paling indah adalah masa remaja.
Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa remaja.
Remaja
Remaja
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
  5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang
Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
  • Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
  • Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
  • Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
  • Cinta dan Hubungan Heteroseksual
  • Permasalahan Seksual
  • Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
  • Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama
Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:
Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita. Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya “jatuh cinta”.
Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman.
Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja.
Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).
Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.
Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja.
Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda.
Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.
Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.
REFERENSI :
Choate, L.H. (2007). Counseling Adolescent Girls for Body Image Resilience: Strategi for School Counselors. Profesional School Counseling. Alexandria: Feb 2007. Vol. 10, Iss. 3; pg. 317, 10 pgs. Diakses melalui http://ezproxy.match.edu/menu pada 9 Mei 2008
Fagan, R. (2006). Counseling and Treating Adolescents with Alcohol and Other Substance Use Problems and their Family. The Family Journal: Counseling therapy For Couples and Families. Vol.14. No.4.326-333. Sage Publication diakses melalui http://tfj.sagepub.com/cgi/reprint/14/4/326 pada 18 April 2008
Gunarsa, S. D. (1989). PsikologiPperkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muss, R. E. , Olds, S. W. , & Fealdman (2001). Human Developmen. Boston: McGraw-Hill Companies.
Rey, J. (2002). More than Just The Blues: Understanding Serious Teenage Problems. Sydney: Simon & Schuster.
Rini, J.F. (2004). Mencemaskan Penampilan. Diakses dari e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Setiono, L.H. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Tambunan, R. (2001). Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Mitos-mitos Seputar “Gak Bakal Hamil”. Diakses dari www.e-psikologi.com pada tanggal 22 April 2006.
Kredit Foto: inmagine.com
 

Monday, 21 November 2011

Personal Meaning

Personal meaning dianggap menjadi salah satu hal yang penting yang menggerakkan individu mencapai prestasi. Selain itu, Frankl (dalam Wiebe, 2001) memandang bahwa seseorang yang memiliki personal meaning yang positif (fulfillment of personal meaning) dalam kehidupan, berkontribusi kepada harapan dan optimisme dan menghargai terjadinya suatu masa buruk dalam siklus kehidupan.
Bilamana terjadi suatu kejadian atau peristiwa buruk, personal meaning diyakini dapat membantu memunculkan kebangkitan diri individu dari keadaan yang tidak diinginkan. Frankl (dalam Wiebe, 2001) berkeyakinan bahwa meaningfulness (kebermaknaan) dalam hidup, berhubungan dengan self esteem yang tinggi dan perilaku yang murah hati terhadap orang lain, sedangkan meaningless (ketidakbermaknaan) dalam hidup berasosiasi dengan ketidakpedulian atau melepaskan diri (diengagement).
Personal Meaning dalam beberapa perspektif
a. Perspektif Relativitas
Battista dan Almond (dalam Visser, 1973) melakukan penelitian terhadap berbagai teori personal meaning yang berbeda, dan menemukan bahwa meaning bagi setiap orang itu berbeda, dan pencapaian menemukan meaning itu sendiri unik bagi setiap orang. Toleransi Battista dan Almond terhadap sistem kepercayaan yang memunculkan struktur bagi perkembangan personal meaning adalah tanda penting dalam perspektif relativitas ini. Dalam penelitiannya tersebut, Battista dan Almond menemukan 4 hal yang biasa ditemukan yang berhubungan dengan personal meaning, yaitu ;
  1. Orang yang percaya bahwa hidupnya bermakna , secara positif pasti meyakini konsep-konsep tertentu, seperti humanistik, religiusitas, atau idiosyncratic yang berhubungan dengan makna kehidupan.
  2. Konsep meaning yang mereka yakini, memunculkan kekonsistensian mereka untuk mencapai arah dan tujuan hidup mereka.
  3. Orang yang percaya bahwa hidup mereka bermakna , entah hidup mereka sudah bermakna atau mereka yang masih berusaha mencapai tujuan hidupnya.
  4. Dalam proses mencapai tujuan hidup yang mereka buat, dalam diri seseorang , akan muncul perasaan signifikan pada diri mereka sendiri dan rasa bangga terhadap kehidupan mereka.
b. Perspektif Eksistensial
Personal meaning menurut perspektif eksistensialis didasarkan dari berbagai pemikiran filosofi, psikiatri dan psikolog. Sartre, Kierkegaard, dan Nietzche, di mana semuanya penganut eksistensialis yang sangat meyakini pengalaman seseorang, pada waktu dan situasi tertentu. (May & Yalom, 1995 dalam Wiebe,2001). Tujuan pokok Humanisme – Eksistensialis adalah keselamatan dan kesempurnaan manusia.
b.1. Perspektif Eksistensial Sartre
Pandangan Sartre mengenai Eksistensialisme sebagai Humanisme adalah ajaran yang menghargai kehidupan manusia, dan mengajarkan bahwa setiap kebenaran dan tindakan mengandung keterlibatan lingkungan dan subjektifitas manusia (Sartre dalam Soejadi, 2001 ). Sartre berpendapat bahwa manusia yang memiliki kebebasan, kemerdekaan, dan sebagai makhluk pribadi yang otonom. Sartre menghargai dan menjunjung tinggi eksistensi pribadi serta subjektifitas dalam kehidupan bersama. Kebebasan bagi Sartre adalah absolut, tidak ada batas lagi kebebasan selain batas yang ditentukan oleh kebebasan itu sendiri. Kebebasan sebagai arah dan tujuan hidup selaku manusia adalah kepribadian atau kedirian yang sifatnya sedemikian rupa sehingga orangnya bebas dari beraneka ragam alienasi yang menekannya, dan bebas pula untuk kehidupan yang utuh, tak tercela, berdikari dan kreatif. Selain itu, Sarte juga menekankan bahwa manusia harus bertanggung jawab terhadap keputusan yang dipilihnya. Menurutnya, manusia harus dipahami sebagai subjek otonom, memiliki keunikan dan kedudukan eksistensial. Individualitas dan personalitas manusia menjadi penting karenanya.
b.2. Perspektif Eksistensial Omoregbe
Omoregbe (dalam Soejadi, 2001) mengatakan implikasinya dalam sikap dan tindakan humanis, bahwa kebebasan manusia menurut Sartre memberikan dan membawa jalan keluar yang fundamental untuk mentransendensi atas dunia, menumbuhkan semangat keberanian manusia untuk berbuat lebih kreatif dan progresif dalam usaha meraih hidup yang lebih tinggi , memberi peluang kepada setiap pribadi manusia untuk mengembangkan diri.

Definisi Meaning dan Personal Meaning
a. Definisi Meaning Menurut Maslow
Maslow (dalam Wiebe, 2001) mengatakan bahwa meaning dialami dari aktualisasi diri, individu yang termotivasi untuk mengetahui alasan atau maksud dari keberadaan dirinya. Ia juga mengatakan bahwa setiap individu memiliki dorongan untuk memenuhi kebutuhannya dari yang sederhana sampai kebutuhan yang kompleks. Aktualisasi diri adalah pencapaian suatu potensi terbesar dalam diri, menjadi yang terbaik yang dapat dilakukannya, dan mencapai tujuan hidup dirinya.
b. Definisi Meaning Menurut Baumeister
Baumeister (1991), mengatakan bahwa meaning mengandung beberapa bagian kepercayaan yang saling berhubungan antara benda, kejadian dan hubungan. Baumeister menekankan bahwa meaning pada akhirnya memberikan arahan, intensi pada setiap individu, di mana perilaku menjadi memiliki tujuan , daripada hanya berperilaku berdasarkan insting atau impuls.
c. Definisi Meaning Menurut Frankl
Frankl (dalam Wiebe, 2001) mengkonsepkan meaning sebagai pengalaman dalam merespon tuntutan dalam kehidupan, menjelajahi dan meyakini adanya tugas unik dalam kehidupannya, dan membiarkan dirinya mengalami atau yakin pada keseluruhan meaning. Frankl yakin bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk melawan lingkungan luar yang sulit, menahan dorongan fisik maupun psikologis untuk masuk ke dalam dimensi baru dari eksistensi diri. Dimensi baru ini adalah hal-hal mengenai meaning, dan meliputi dorongan untuk menjadi signifikan dan bernilai dalam kehidupan.
Frankl dalam logoterapinya, menyebutkan tiga asumsi. Asumsi pertama, kehidupan memiliki meaning yang sangat luas, termasuk hal yang paling menyakitkan atau tidak ada harapan (kebebasan berkehendak). Kedua, bahwa orang yang dilengkapi “will to meaning” sejak lahir , yang tidak mengejar kekuasaan atau kesenangan, tetapi untuk menemukan meaning dan tujuan hidupnya (motivation for living atau kehendak untuk hidup bermakna). Ketiga, Frankl mempercayai bahwa orang memiliki kebebasan untuk menemukan personal meaning dalam berbagai situasi (makna hidup), entah melalui aktivitas, pengalaman atau sikap yang bermakna.
d. Definisi Personal Meaning Menurut Reker
Menurut Reker, personal meaning adalah memiliki tujuan hidup, memiliki arah, rasa memiliki kewajiban dan alasan untuk ada (eksis), identitas diri yang jelas dan kesadaran sosial yang tinggi.
“Personal meaning is defined as having a purpose in life, having a sense of direction, a sense of order and a reason for existence, a clear sense of personal identity, and a greater social consciousness.”
(Reker, 1994; Reker & Butler, 1990; Reker et al., 1987; Zika & Chamberlain, 1992)
Definisi personal meaning menurut Reker dapat melengkapi komponen-komponen yang menentukan berhasilnya perubahan dari penghayatan hidup tak bermakna menjadi lebih bermakna yang diutarakan Bastaman (1996), yaitu ;
  1. Pemahaman diri ( self insight); Meningkatnya kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan kearah kondisi yang lebih baik
  2. Makna hidup ( meaning of life); adalah nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi sebagai tujuan hidup yang harus dipenuhi dan sebagai pengarah kegiatannya
  3. Pengubahan sikap ( attitude change); Adalah suatu proses dari yang semula tidak tepat menjadi lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup atau musibah.
  4. Keikatan diri (self commitment); Adalah munculnya suatu komitmen seseorang yang ditandai dengan semakin terikat dengan makna hidup yang ditemukan dan tujuan hidup yang telah ditetapkan
  5. Kegiatan terarah (directed activity); Adalah upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensi-potensi pribadi (bakat, kemampuan, keterampilan) yang positif, serta pemanfaatan relasi antar pribadi untuk menunjang tercapainya makna dan tujuan hidup.
  6. Dukungan sosial (social support); Adalah hadirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia memberi bantuan pada saat-saat diperlukan.
Hal-hal pokok yang saling melengkapi di antara keduanya, yaitu ;
  1. Tujuan hidup yang dimaksud oleh Reker (1997), dapat dianggap sama dengan makna hidup yang dimaksud Bastaman (1996). Tujuan dan makna hidup, sama-sama memiliki peran sebagai arah individu tersebut dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
  2. Sebelum memiliki tujuan dan makna hidup, individu akan melalui tahap pemahaman diri , yaitu proses pencarian dan penyadaran atas keadaan diri yang menghasilkan suatu tujuan atau makna hidup individu tersebut. Tahap pemahaman diri ini dapat diartikan sama dengan identitas yang jelas pada definisi personal meaning Reker (1997).
  3. Setelahnya, individu akan melalui tahapan pengubahan sikap, suatu proses penyadaran yang semula tidak tepat menjadi lebih tepat dalam menghadapi masalah. Hal ini didorong pula oleh rasa memiliki kewajiban dan alasan untuk ada (eksis) pada individu tersebut.
  4. Kemudian, individu akan melalui tahapan keikatan diri terhadap tujuan dan makna hidupnya.
  5. Individu akan masuk ke tahap kegiatan terarah, yaitu melakukan upaya pencapaian tujuan danmakna hidup. Pada tahap ini individu telah memiliki arah yang jelas dan nyata, yang dapat dilakukan dalam usahanya mencapai tujuan dan makna hidup.
  6. Komponen dukungan sosial yang diungkapkan Bastaman (1996), merupakan komponen pelengkap yang berperan penting dalam pencapaian tujuan dan makna hidup atau personal meaning individu. Sedangkan kesadaran sosial yang tinggi dapat dianggap sebagai komponen pendukung atau hasil dari pencapaian tujuan dan makna hidup individu.

Dimensi Meaning
Reker dan Wong (dalam Reker&Chamberlain, 2000) melakukan kolaborasi teori, yang menghasilkan 4 dimensi meaning. Empat dimensi meaning tersebut berhubungan dengan 1) bagaimana meaning dialami (structural components), 2) isi dari pengalaman (sources of meaning), 3) perbedaan bagaimana meaning dialami (breadth), dan 4) kualitas pengalaman bermakna (depth).
a. Structural components
Komponen struktural ini menjelaskan bagaimana meaning dialami oleh seseorang, yang terdiri dari komponen kognitif, motivasional, dan afektif, serta dan komponen personal dan sosial.
Komponen Kognitif
Diartikan sebagai sistem keyakinan individu dan pandangan menyeluruh yang telah terbangun dalam konteks budaya yang spesifik dan dipengaruhi oleh pengalaman kehidupan individu yang unik. Umumnya, pertanyaan-pertanyaan fundamental yang dipengaruhi komponen kognitif adalah ”Apa yang saya lakukan dalam kehidupan ini bernilai?” atau ” Apa yang membuat kehidupan menjadi berarti?”. Oleh karena itu, komponen kognitif menjadi bagian dari pemberian makna pada suatu pengalaman hidup. Individu tidak hanya memberi makna dari sistem kepercayaan atau pandangan masyarakat , tetapi juga mencari pengertian eksistensial melalui nilai dan tujuan dari kejadian atau pengalaman hidup, lingkungan atau kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Komponen Motivasional
Adalah sistem nilai yang dibangun pada setiap individu. Nilai, adalah pedoman kehidupan, yang mengarahkan apa tujuan yang harus dicapai oleh seseorang, dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut. Nilai ditentukan oleh kebutuhan individu, kepercayaan dan masyarakat. Proses untuk mencapai tujuan tertentu dan pencapaian mereka, meningkatkan sense of purpose dan meaning pada satu eksistensi. Komponen motivasional melihat personal meaning sebagai sifat dasar kognitif dan perilaku, secara konsisten mengejar tujuannya dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang menurutnya berguna. Komponen ini paling penting untuk menjaga individu agar tetap bertahan , dalam menghadapi atau melalui rintangan, atau pengalaman traumatis yang ekstrem.
Komponen Afektif
Komponen ini terdiri dari rasa puas (satisfaction) dan pemenuhan atau perasaan terpenuhi (fulfillment) individu yang didapat dari pengalaman-pengalaman dan keberhasilan mencapai tujuan individu tersebut. Perasaan terpenuhi merupakan hasil dari cara berpikir yang positif dalam kehidupan. Walaupun, perjuangan untuk mencapai kebahagiaan belum tentu menghasilkan rasa makna diri yang besar, bagaimanapun juga rasa makna diri tersebut akan memberikan rasa puas pada individu yang berjuang tersebut.
Reker dan Wong (dalam Reker&Chamberlain, 2000) mengatakan bahwa ketiga komponen di atas tersebut saling berhubungan satu sama lain. Dalam penelitian yang dilakukan Ranst dan Marcoen (dalam Reker&Chamberlain, 2001) ditemukan bahwa komponen motivasional dan komponen afektif mempengaruhi komponen kognitif, sedangkan komponen motivasional tidak saling berpengaruh dengan komponen afektif.
Komponen Personal dan Sosial (Preconditions of meaning )
Preconditions of meaning terdiri dari hubungan sosial dan kualifikasi personal. Komponen sosial terdiri dari hubungan personal, cinta dan empati. Komponen personal terdiri dari kualitas unik pada individual, atribut personal (seperti menjadi kreatif, fleksibel, adaptif, intelektual, memiliki rasa ingin tahu, dan bertanggung jawab), yang mempengaruhi personal meaning. Komponen sosial dan personal berperan sebagai preconditions of meaning dengan mengidentifikasi, individu yang seperti apa yang hendak mencari meaning.

b. Sources of meaning (sumber meaning)
Sumber meaning dimaksudkan dengan isi area-area yang berbeda atau tema personal dari mana meaning dialami. Darimana meaning berasal? Nilai dan kepercayaan adalan landasan kuat dari sumber meaning. Nilai didefiniskan sebagai konstruk yang melebihi situasi spesifik dan nilai lebih disukai secara personal dan sosial. Nilai tergabung dengan modes of conduct (nilai instrumental) dan tujuan hidup (nilai terminal) dan mendorong untuk melakukan tindakan (Rokeach dalam Reker dan Chamberlain, 2000). Nilai akan terefleksikan dari jawaban individu ketika ditanyakan mengenai area dari kehidupan mereka, dari mana meaning berasal.
Di samping itu, berdasarkan berbagai penelitian secara kuantitatif maupun kualitatif, ditemukan bahwa meaning dapat berasal dari sumber-sumber yang luas dan spesifik, seperti budaya dan latar belakang etnis, sosial demografis dan tahap perkembangan (Devogler, et al dalam Reker dan Chamberlain, 2000).
Perbandingan Teori Sumber Meaning Frankl, Wong dan Reker
Sumber meaning menurut FRANKL (dalam Wiebe, 2001)
Sumber meaning menurut WONG (dalam Wiebe, 2001)
Sumber meaning menurut REKER (dalam Reker & Chamberlain, 2000)
Sumber meaning terdiri dari 3 sumber nilai, yaitu ;
1. Nilai Kreatif ; apa yang dapat diberikan individu untuk dunia, misalnya kesuksesan pribadi, perilaku menolong, dan sebagainya
2. Nilai Sikap (attitude); bagaimana cara individu menghadapi situasi yang tidak dapat diubah. Penerimaan terhadap situasi ini, seburuk apapun situasi atau keadaannya, disebut dengan self-transcendence.
3. Nilai Pengalaman ; pengalaman langsung di dunia , baik yang buruk ataupun yang baik.
  1. Achievement atau pencapaian prestasi
  2. Relationship (perilaku dan keahlian dalam menjalin hubungan dengan orang lain)
  3. Religion (keyakinan pada kekuatan yang lebih besar dan hubungan personal dengan Tuhan)
  4. Self –Transcendence (fokus nilai dalam melayani orang lain)
  5. Self Acceptence (memperlakukan diri dengan baik dan kemampuan untuk mengintegrasikan kesalahan di masa lalu dan keterbatasan diri dalam menjalani kehidupan saat ini dan cita-cita di masa depan)
  6. Intimacy (fokus terhadap keluarga dan hubungan yang dekat/intim)
  7. Fair Treatment (bagaimana seseorang diperlakukan dan dihormati dalam lingkungan sosialnya)
  8. Fulfillment (perasaan terpenuhi dan rasa puas atau senang)
  1. hubungan personal
  2. altruism
  3. aktivitas religi,
  4. aktivitas kreatif,
  5. perkembangan diri,
  6. menemukan kebutuhan dasar,
  7. keamanan finansial
  8. aktivitas rekreasi
  9. prestasi pribadi,
  10. meninggalkan warisan,
  11. nilai atau idealisme yang bertahan lama,
  12. tradisi dan budaya,
  13. alasan sosial/politik
  14. humanistic concern
  15. aktivitas bersenang-senang
  16. kepemilikan benda
  17. hubungan dengan alam.


c. Breadth of meaning
Breadth of meaning adalah kecenderungan individu untuk mengalami atau memperoleh meaning dari beberapa sumber yang berbeda. DeVogler-Ebersole dan Ebersole (dalam Reker dan Chamberlain, 2000) menyatakan bahwa pada umumnya individu memperoleh meaning dari berbagai sumber , dan hanya sedikit individu yang hanya memperoleh meaning dari satu sumber. Reker dan Wong (dalam Reker dan Chamberlain, 2000) menyatakan bahwa individual 1) akan mengalami meaning dari beberapa sumber yang berbeda, dan 2) semakin banyak sumber meaning yang dimiliki, maka akan mengarahkan individu tersebut ke rasa pemenuhan (fulfillment) yang lebih besar.
d. Depth of meaning
Depth of meaning menunjukkan kualitas dari pengalaman meaning individu. Apakah pengalaman meaning individu tersebut dangkal, dalam, atau hanya sebagian. Menurut Reker dan Wong (dalam Reker dan Chamberlain, 2000), terdapat empat (4) level depth yang menunjukkan tingkat meaning yang dialami individu. Keempat level depth ini dikategorikan menjadi ; self-preoccupation dengan kesenangan dan kenyamanan (level 1), pengabdian waktu dan tenaga untuk mewujudkan potensi diri (level 2), pelayanan bagi orang lain dan komitmen terhadap lingkup sosial yang lebih luas , atau alasan politis (level 3), dan nilai yang menyenangkan yang melebihi arti individu dan meliputi alam semesta, dan tujuan akhir kehidupan (level 4). Namun, O’Connor dan Chamberlain (dalam Reker dan Chamberlain, 2000), menemukan kesulitan melakukan prosedur dalam menentukan levels of depth seseorang sesuai dengan kriteria depth of meaning yang dipaparkan Reker dan Wong (dalam Reker dan Chamberlain, 2000). Kesulitan prosedur yang dihadapi adalah adanya hubungan yang tidak setara antara sumber kategori meaning dan levels of depth. Misalnya, sumber kategori meaning yang dimiliki seseorang hanya melayani orang lain, dengan demikian apakah individu ini dapat langsung dimasukkan ke dalam level tiga (3) ? Menurut O’Connor dan Chamberlain (dalam Reker dan Chamberlain, 2000), depth merupakan dimensi yang penting untuk menggamarkan personal meaning seseorang, namun O’Connor dan Chamberlain menyatakan bahwa masih diperlukan konsep depth of meaning yang lebih baik. Oleh karena itu, dalam penelitian ini depth of meaning tidak akan digali mengingat masih terjadi perdebatan konsep depth of meaning ini, untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan dalam mengintepretasi dan menganalisis data.

Proses penghayatan hidup tak bermakna menjadi lebih bermakna atau Penemuan Personal Meaning
Bastaman (1996) melihat proses makna hidup seseorang dalam suatu proses yang merupakan urutan pengalaman dari penghayatan hidup tak bermakna menjadi lebih bermakna, atau berdasarkan definisi Reker disebut proses penemuan personal meaning.
Lukas (1986) , melihat ada dua bagian besar antara individu yang telah menemukan personal meaning dan individu yang masih mencari personal meaning. Individu yang belum menemukan personal meaning dapat dibedakan mejadi dua bagian lagi yaitu individu yang berhenti dan terperangkap (stuck) dalam pencarian mereka (people in doubt), dan individu yang masih aktif mencari personal meaning nya. Sedangkan individu yang telah menemukan personal meaning juga dibagi menjadi dua, yaitu individu yang memiliki sistem nilai piramidal (people in despair) dan individu yang memiliki sistem nilai paralel.
Kratochvil (dalam Lukas, 1986) mengungkapkan, individu yang memiliki sistem nilai piramidal adalah individu yang hanya memiliki satu nilai besar dalam hidupnya di atas nilai-nilai kehidupannya yang lain. Sedangkan individu yang memiliki sistem nilai paralel adalah individu yang memiliki beberapa nilai yang sama-sama kuat dalam kehidupannya, semua nilai yang dimilikinya sama berartinya.
Kratochvil (dalam Lukas, 1986) juga menegaskan bahwa individu yang memiliki sistem nilai paralel, umumnya lebih sehat dan stabil daripada individu yang memiliki sistem nilai piramidal. Ada dua alasan yang mendasari pemikiran Kratochvil ini, yaitu ;
  1. Individu yang memiliki sistem nilai paralel lebih mudah menggantikan (replace) nilai miliknya yang hilang. Misalnya, seorang ibu yang berhenti berkarir, masih memiliki prestasi lain di kegiatan sosial dan kesibukan dalam rumah tangganya. Sedangkan individu dengan sistem nilai piramidal, konsep keseluruhan hidupnya mudah dikacaukan (shambles).
  2. Umumnya, individu yang hanya memegang satu nilai tertinggi, cenderung fanatik atau tidak dapat bertoleransi terhadap suatu situasi kehidupan. Misalnya, seorang ibu yang hidup hanya untuk anaknya, sulit untuk memahami perilaku ibu-ibu lain yang dapat menitipkan anaknya untuk pergi bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

Bastaman, H. D, (1996). Meraih Hidup Bermakna : Kisah Pribadi dengan Pengalaman Tragis. Jakarta : Paramadina
Baumeister, R. F., (1991). Meanings of Life. New York : Guilford Press
Bourne Jr, L.E. & Ekstrand, B.R., (1973). Psychology : It’s Principles & Meanings. Illinois: Dryden Press
Frankl, V.E., (2006). Man’s Search for Meaning. Boston : Beacon Press

Lukas, E. (1986). Meaningful Living : A Logotherapy Guide to Health. (tanpa kota penerbit dan nama penerbit)
Ranst, N.V. & Marcoen, A. (t,th). Structural Components of Personal Meaning in Life and Their Relationship with Death Attitudes and Coping Mechanisms in Late Adulthood. California : Sage Publication
Reker, G. T., & Chamberlain, K., (2000). Exploring Existential Meaning : Optimizing Human Development Across the Life Span. California : Sage Publication
Reker, G.T. (1997). Personal meaning, optimism, and choice: Existential predictors of depression in community and institutional elderly. Vol.37, Iss. 6;  pg. 709, 8 pgs. Diakses pada 4 September 2006, dari www.proquest.com
Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta : Kanisius
Siswanto, D. (2001). Humanisme Eksistensial Jean-Paul Sartre. Yogyakarta : Philosophy Press
Wiebe, R.L. (2001). The Influence of Personal Meaning on Vicarious Traumatization in the Rapists. [Versi elektronik]. Diakses pada 27 Maret 2007 dari www.twu.ca/cpsy/Documents/Theses/Rhonda%20Wiebe%20Thesis.pdf
Visser,W.( 2005). Sources of Meaning in the Life, Work and Careers of Corporate Sustainability Managers in South Africa. Diakses pada 18 September 2006 dari www.waynevisser.com/meaning_sustainability_jan05.htm

Penulisan Referensi

Gaya penulisan American Psychological Association (APA) merupakan salah satu dari beberapa standar penulisan karya ilmiah psikologi, dan gaya penulisan ini telah digunakan di berbagai Fakultas Psikologi di Indonesia.
Panduan ini ditulis terutama oleh karena masih banyak terlihat kelemahan mahasiswa menuliskan referensi dan daftar pustaka dalam skripsi mereka, dengan mengikuti gaya APA.  Sumber panduan ini adalah Publication Manual of the American Psychological Association (APA, 2003), edisi kelima, dengan mengganti beberapa contoh agar lebih relevan dengan situasi di Indonesia. Sebagai referensi pembanding, beberapa bagian tulisan ini juga merujuk pada gaya British Psychological Society.
Tidak semua bagian Publication Manual ini diambil, tetapi bagian-bagian relevan saja, terutama yang menurut pengamatan saya akan sering dipakai oleh mahasiswa. Yang menjadi perhatian khusus saya adalah bahwa pada masa sekarang sumber referensi pengetahuan tidak lagi terbatas pada buku dan jurnal saja, tetapi juga media audio-visual dan media internet. Masih banyak di antara kita –mahasiswa maupun dosen—yang belum memahami penulisan referensi gaya APA untuk referensi semacam itu, sehingga mudah-mudahan panduan ini bermanfaat.

Sumber panduan ini adalah Publication Manual of the American Psychological Association (APA, 2003), edisi kelima...

BAGIAN PERTAMA: PENYEBUTAN KARYA DALAM BADAN TULISAN (TEKS)


Ada dua cara penulisan dalam teks, yaitu (a) menggunakan nama sebagai bagian dari kalimat diikuti tahun dalam kurung, atau (b) menyebutkan referensi nama diikuti koma dan tahun, semuanya dalam kurung. Nama yang dipakai dalam teks hanyalah nama keluarga (last name, family name, marga, fam) saja. Nama depan, initial, dan gelar akademis tidak perlu dituliskan. (lihat lampiran I untuk tulisan nama bangsa/etnis tertentu)
Belum ada kata sepakat mengenai cara penulisan nama orang Indonesia yang sebagian besar tidak menggunakan nama keluarga, tetapi sementara ini kita sepakat menggunakan nama yang diurutkan paling belakang untuk penulisan nama.
Djohan (2003) menyebutkan bahwa berbagai penelitian tentang pengaruh musik bertolak dari pertanyaan umum, emosi seperti apa yang dapat timbul pada saat seseorang mendengarkan musik.
Berbagai penelitian tentang pengaruh musik bertolak dari pertanyaan umum, emosi seperti apa yang dapat timbul pada saat seseorang mendengarkan musik (Djohan, 2003)



[1] Dalam APA Publication Manual ditulis n.d. (no date).   Singkatan dalam bahasa Indonesia diambil dari buku Pedoman Penyajian Karya Ilmiah (Gunawan, Achmadi, & Arianti, 2004).

Narsisisme

Konsep dan istilah narsisisme berawal dari sebuah mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan dari Thespian bernama Narsisus yang ditakdirkan untuk hidup hingga ia melihat dirinya dan jatuh hati pada citra diri yang dilihatnya.
Berdasarkan mitologi tersebut berkembanglah konsep narcisism (dalam tulisan ini penulis menggunakan kata: narsisisme) yang pada mulanya digunakan untuk menggambarkan orang yang jatuh cinta dengan citra dirinya sendiri atau suatu bentuk hukuman bagi orang-orang yang tidak dapat mencintai orang lain. Pada tahun 1899, Paul Nacke, seorang psikiater berkebangsaan Jerman menggunakan istilah Narcismus yang merujuk pada “attitude of a person who treats his own body in the same way as otherwise the body of sexual object is treated. ”. Dengan perkataan lain , seseorang mengalami kenikmatan seksual pada saat menatap, membelai dan mencintai tubuhnya. Konsep narsisisme dari Nacke inilah yang kemudian menjadi dasar bagi konsep narsisisme yang digunakan oleh Freud (1914). Dalam perkembangannya, pemahaman narsisisme dalam teori Freud tidak hanya mengenai perilaku abnormal dalam kehidupan seksual individu, tetapi lebih menekankan pada instink untuk melindungi diri sendiri (self perseveration) yang ada pada setiap makhluk hidup.
Freud (1914) menggambarkan konsep narsisisme dalam teorinya mengenai metapsikologi (metapsychological). Konsep ini digunakan untuk menggambarkan tahapan perkembangan libido normal antara tahap autoerotik (autoeroticism) dan object love. Narsisisme timbul ketika libido (energi psikis) diinvestasikan untuk memenuhi kepuasan diri sendiri sehingga ada ketidakmampuan untuk menginvestasikannya kepada orang lain atau demi kepentingan orang lain. Perilaku yang muncul sebagai akibat dari narsisisme ini terlihat sebagai rasa cinta diri (self love) yang berlebihan.
Selanjutnya, di bidang klinis, Freud (dalam Raskin & Terry, 1988) menggunakan konsep narsisime dalam kategori diagnostik untuk menggambarkan fenomena perilaku sebagai berikut :
  • Sikap seseorang terhadap dirinya sendiri, misalnya cinta terhadap diri sendiri (self love), mengagumi diri sendiri (self admiration), membesar-besarkan diri sendiri/ perilaku ekspansif (self aggrandizement)
  • Kerentanan self esteem seseorang yang meliputi ketakutan akan kehilangan cinta dan ketakutan akan kegagalan
  • Orientasi pertahanan diri yang meliputi megalomania, idealisasi, penyangkalan (denial) dan proyeksi
  • Kebutuhan untuk dicintai, memenuhi diri sendiri (self sufficiency) dan kebutuhan untuk menjadi sempurna
  • Dalam hubungan dengan orang lain memperlihatkan sikap yang menunjukkan bahwa dirinya “lebih” dari orang lain
Setiap manusia memiliki 2 bentuk objek seksual yaitu : diri mereka sendiri dan wanita yang merawatnya. Selanjutnya, Freud membuat postulat mengenai narsisisme primer pada setiap orang dimana di kemudian hari akan dimanifestasikan melalui dominasi pemilihan objek (object-choice) cinta.
Freud (1914) membagi individu ke dalam 2 kelompok yang berbeda berdasarkan pemilihan objek:
1. Narcissistic Type
Pada individu-individu yang mengalami gangguan pada perkembangan libidinal, seperti pada homoseksual, dimana pemilihan objek cinta bukanlah ibunya melainkan diri mereka sendiri. Mereka secara jelas melihat diri mereka sebagai objek cinta.
Berdasarkan tipe narsisistik ini, maka seseorang mungkin akan memilih objek cinta :
    1. diri mereka sendiri
    2. diri mereka dahulu
    3. diri yang diinginkan
    4. seseorang yang dulu pernah menjadi bagian dari dirinya

2. Anaclitic Type
Pengalaman auto-erotic sexual gratification yang pertama terjadi ketika individu melakukan self preservation. Yang muncul di awal adalah sexual instinct yang kemudian dilanjutkan oleh ego-instinct; selanjutnya mereka terbebas dari insting-insting tersebut dan mengubah objek seksual mereka ke dalam aktivitas feeding, perhatian dan perlindungan yang diberikan oleh ibunya.
Berdasarkan tipe anaclitik, maka seseorang mungkin akan memilih objek cinta :
    1. wanita yang mengasuh/ merawatnya
    2. laki-laki yang memberikan proteksi


Dinamika Narsisisme

Freud berpendapat bahwa seorang bayi merasa dirinya sempurna dan sangat berpengaruh. Ia memiliki pikiran yang terbatas dan tidak terbatas (omnipotence of thought). Semua energi libido digunakan untuk memuaskan kebutuhan psikologisnya dan untuk merawat keberadaannya. Investasi dasar dari energi ini diberi nama “Ego Libido” atau narsistik. Insting-insting autoerotis adalah instink yang sifatnya primodial dan melalui insting inilah narsisisme mulai muncul pada diri individu. Selanjutnya, Freud membagi narsisisme menjadi 2, yaitu ; 1. Narsisisme primer
Pada narsisisme primer, energi libido diarahkan pada diri sendiri untuk memuaskan diri sendiri. Pada saat tertentu, sesuai dengan perkembangannya, si bayi tidak lagi menemukan kepuasan diri yang sempurna melalui pikirannya ini. Ia kemudian mengalami interupsi dalam pemuasan narsisistiknya (narcissisistic self-absorption). Pada akhirnya ia akan mengalihkan energi libidonya pada orang lain untuk mencari kepuasan itu walaupun baginya kepuasan ini tidak sesempurna yang pertama.
2. Narsisisme sekunder
Sedangkan pada narsisisme sekunder, investasi energi libido tersebut dialihkan kepada orang lain tapi tetap dilakukan dengan tujuan untuk dapat memuaskan diri sendiri.

Freud (1911 dalam Siegel, 1996) mencoba untuk menerangkan perkembangan narsisisme ini melalui studi mengenai psikosis. Freud mencoba menganalisis buku harian milik Schreber, seorang hakim yang menulis buku harian pada saat ia mengalami episode psikosis. Analisis Freud menggunakan buku harian tersebut yang menggambarkan delusi paranoid yang dialami Schreber untuk mempelajari proses yang terjadi dalam psikosis. Freud meyakini bahwa patologi mendasar dalam psikosis tersebut adalah terjadinya regresi pada tahap narsistik dimana pada tahap itu tidak ada kelekatan (attachment) terhadap objek. Freud membangun perkembangan kontinum dari object attachment yang diawali dengan tahap narsistik (objectless) dan bergerak menuju tahap objek cinta, suatu tahapan dimana objek tersebut dicintai dan dihayati sebagai sesuatu yang terpisah.



Perkembangan Konsep Narsisisme

Konsep narsisisme yang dikembangkan oleh Freud sangat mempengaruhi pemikiran psikoanalisa modern. Salah satu pemahaman narsisisme dalam bidang klinis dari perspektif psikoanalisa modern dapat ditemukan pada teori Kohut. Kohut (dalam Siegel, 1996) melihat narsisime sebagai suatu tahapan perkembangan diri. Sementara itu, manifestasi dari narsisisme yang tidak sehat adalah depresi dan kehampaan perasaan sebagaimana ia temui pada beberapa pasiennya. Keluhan mereka berkisar pada kemungkinan hilangnya makna dan gairah hidup mereka sehingga mereka menjalani hidup dengan berat hati.
Menurut Kohut, kebutuhan utama yang diperlukan dalam perkembangan narsisisme yang sehat adalah
  1. kebutuhan untuk dicerminkan yang dimanifestasikan melalui kebutuhan anak-anak untuk mendapatkan pengakuan, persetujuan, dan kekaguman terhadap ekspresi dan perilaku mereka. Orang yang paling penting untuk pencerminan ini adalah ibu.                                                                                                                  
  2. kebutuhan untuk mengidealisasikan yang dimanifestasikan melalui kekaguman dan identifikasi pada orang dewasa yang lebih berkuasa. Orang yang paling diidealkan oleh anak biasanya adalah ayahnya.

Berkaitan dengan kontinum perkembangan narsistik dari Freud, maka Kohut berusaha untuk menambahkan pemahaman narsisisme berdasarkan sudut pandangnya yang sedikit berbeda dengan konsep obyek cinta pada Freud sebagai titik akhir dari kematangan narsisisme. Bagi freud, penolakan dari narsisisme untuk kepentingan obyek cinta adalah tujuan dari treatment Freud, sementara ide Kohut mengenai narsisisme membawa pada implikasi terapetik.
Kohut menyatakan bahwa pengalaman narsistik diawali pada masa dimana bayi mulai merasakan kebahagiaan atau disebut juga infant’s blissful state. Bayi berusaha untuk mempertahankan tahap ini dengan mengembangkan 2 bentuk narsistik yang sempurna, dimana masing-masing sistem berkembang dari narsisisme primer yang terpecah, yang selanjutnya sering dikenal sebagai bipolar self ;
1. Narcissistic Self
Merupakan satu sistem yang membuat suatu ‘perfect self’, suatu bentuk perkembangan dimana segala sesuatu terlihat baik, menyenangkan dan sempurna sebagai bagian dari dalam dirinya. Sementara itu, segala sesuatu yang buruk adalah bagian dari luar dirinya. Narsisisme tidak diinvestasikan kepada orang lain melainkan diinvestasikan untuk diri sendiri dengan memberikan penilaian yang terlalu tinggi terhadap diri. Mereka berharap mendapatkan pandangan yang penuh kekaguman dari orang lain. Narcissistic self sangat berkaitan erat dengan dorongan-dorongan dan tekanan yang pada akhirnya memberikan kontribusi pada munculnya ambisi.
2. Idealized Parent Imago
Sistem ini berusaha untuk mengembalikan blissful state yang hilang dengan cara memberikan kekuasaan dan kesempurnaan yang absolut kepada orang lain. Kelekatan dengan figur ‘perfect’ mengembalikan perasaan yang utuh dan menyenangkan. Idealisasi dari idealized parent imago dihasilkan melalui proyeksi dari kebahagiaan bayi; kekuasaan dan kesempurnaan, terhadap orang tuanya. Idealized parent imago dipandang dengan penuh kekaguman sebagai objek yang selanjutnya memberikan kontribusi pada munculnya figur ideal.



Kontekstualisasi Konsep Narsisisme

Dalam era modern saat ini, narsisisme muncul sebagai cara untuk mengatasi tekanan dan kecemasan yang dirasakan. Lasch (1979) menggunakan konsep narsisisme dalam lingkup masyarakat yang luas. Suatu bentuk masyarakat baru membutuhkan bentuk kepribadian yang baru dan cara sosialisasi yang baru. Pada saat masyarakat memilih narsisisme, selanjutnya akan berkembang menjadi kondisi sosial yang dapat meningkatkan trait narsistik yang ada dengan derajat yang berbeda-beda pada setiap orang. Salah satu kondisi yang ada dalam masyarakat modern sekarang ini hal-hal yang memiliki andil dalam membentuk masyarakat yang narsistik yaitu :
    • Perubahan dalam nilai kesuksesan seseorang. Pada masyarakat modern, kesuksesan seseorang dinilai dari kemampuannya untuk dapat menampilkan citra sukses, bukan pada kemampuan seseorang untuk mengatasi masalah ataupun tindakan yang telah dilakukannya. Kesuksesan dinilai dari atribut yang dimiliki seseorang, misalnya kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran yang dimiliki (Lasch, 1979)
    • Lowen (1985) membahas narsisisme pada tingkat individual maupun tingkat budaya. Pada tingkat budaya, narsisme dapat dilihat sebagai hilang atau berkurangnya nilai-nilai kemanusiaan (loss of human values) yang terlihat dari berkurangnya perhatian pada lingkungan, pada kualitas kehidupan individual, dan nilai-nilai persahabatan yang ada di antara individu.

Berangkat dari pemikiran di atas, maka penelitian mengenai narsisisme di Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan dengan melihat keanekaragaman budaya Indonesia dan kecenderungan terjadinya perubahan nilai yang terjadi di masyarakat modern. Media massa dan pariwara, tampaknya ikut memberikan kontribusi dalam perubahan gaya hidup seseorang. Upaya pengembangan penelitian di Indonesia dapat dilakukan untuk memahami, misalnya:
    • Fenomena narsisisme dalam budaya tertentu.
    • Fenomena narsisisme dalam ranah politik, pemerintahan dan pelanggaran/penegakan hukum.
    • Peran masyarakat dan media massa dalam memberikan pengaruh pada berkembangnya kepribadian narsisistik.
    • Tokoh dan penokohan: membentuk dan memelihara kepribadian narsistik.
    • Keterkaitan antara gaya hidup masyarakat modern dengan berkembangnya kepribadian narsistik.
    • Peran pola asuh dalam memberikan pengaruh pada terbentuknya kepribadian narsistik.



Daftar Pustaka
Freud, Sigmund. 1914. On Narcissism : An Introduction. New York : Basic Book, Publishers
Lasch, C. 1979. The Culture of Narcissism. American Life in an Age of Diminishing Expectation. New York : W.W. Norton & Company
Raskin, R., Howard Terry. 1988. A principal-components analysis of the Narcissistic Personality Inventory and Further Evidence of Its Construct Validity. Journal of Personality and Social Psychology, 54, 890 – 902
Siegel, Alan M. 1996. Heinz Kohut and The Psychology of The Self. London : Clays.Ltd

Rekomendasi
Hotchkiss, S. Masterson, J. 2003. Why Is It Always About You? : The Seven Deadly Sins of Narcissism
Twenge, J. 2010. The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement
Payson, E. 2002. The Wizard of Oz and Other Narcissists: Coping with the One-Way Relationship in Work, Love, and Family

Psikologi

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.

Psikologi adalah himpunan bidang akademik, klinikal dan perindustrian yang berkenaan dengan penjelasan dan ramalan mengenai tingkah laku, pemikiran, emosi, motivasi, hubungan peribadi, keupayaan dan patologi.
Psikologi boleh dikatakan bahawa pelbagai bidang berkait yang duduk di bawah nama yang sama termasuk: