Showing posts with label kisah perjuangan. Show all posts
Showing posts with label kisah perjuangan. Show all posts

Wednesday, 16 November 2011

Mengenali Syiah: Imam Syiah Mengetahui Semua Yang Akan Berlaku

Mari kita mengenali Syiah daripada kitab besar mereka :
Kitab Usul Kafi  – Kitabul Hujah Oleh Kulani – Bab 48
Bab : Sesungguhnya Para Imam A.S Mengetahui Ilmu Yang Telah Berlaku Dan Ilmu Yang Akan Berlaku Dan Sesungguhnya Tiada Sesuatu Yang Tersembunyi Daripada Mereka S.A (anna al-Aimmata a.s ya‘lamuun ‘ilma ma kana wa-ma yakun wa-anna-hu la yukhfa ‘alai-him al-Sya’i salawatu llahi ‘alai-him)
(249)-2. Beberapa orang sahabat kami, daripada Ahmad bin Muhammad, daripada Muhammad bin Sinan, daripada Yunus bin Ya‘qub, daripada al-Harith bin al-Mughirah dan beberapa orang sahabat kami di antaranya ‘Abd al-A‘la, Abu ‘Ubaidah dan Abdullah bin Bisyar al-Khasy‘mi telah mendengar Abu Abdillah a.s telah berkata: Aku lebih mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, aku lebih mengetahui apa yang ada di syurga, aku lebih mengetahui apa yang ada di neraka, aku lebih mengetahui apa yang telah berlaku dan apa yang akan berlaku. Beliau (perawi) telah berkata: Beliau a.s telah berhenti seketika, melihat kata-katanya itu menjadi besar atau berat kepada orang yang mendengarnya, lalu beliau a.s telah berkata: Aku telah mengetahui semua itu daripada Kitab Allah a.w, sesungguhnya Allah a.w telah berfirman: “Di dalamnya menerangkan setiap sesuatu”
Saudara pembaca,
Abu Abdillah as yang menjadi sumber hadis Syiah ini adalah panggilan kepada Imam ke 6 iaitu Imam Jafar As Shadiq as. Saudara perhatikan bagaimana perawi atau ulama Syiah telah mendustakan Imam As Shadiq as dengan menyebut beliau as berkata begitu, sedangkan penulisan sejarah dari sumber Syiah sendiri adalah berbedza.
Pada kitab Para Pemuka Ahlul Bait Nabi Terbitan Al Ta’lif, Mu’assassah Al Balagh, tulisan Ali Muhammad Ali  atau kitab terjemahan  berjudul Tokoh-tokoh Terkemuka Ahlul Bait Nabi  mencatit:
Pertama
Imam ke Tiga  Iman al Hasan bin Ali as diracun oleh isteri Iman sendiri iaitu Ja’dah binti Al-Asy’ats
Kedua
Di masa pemerintahan Al-Walid, Sulaiman bin Abdul Malik lalu membunuh Imam Ali Zainal Abidin as dengan cara menyusup racun kedalam makanan beliau as.
Ketiga
Maka racun pun masuk ke tubuh beliau ( Iman Muhammad al Baqir as ) – pada nota kaki dipetik dari Muhsin al Amin, A’yan Al-Syiah, Jilid IV halaman 3
Keempat
Dengan membawa niat jahat Yahya bin Khalid ( wazir Harun al Rashid ) berpakat dengan Al Sanadi bin Syahik ( Komandan Polis Rahsia Harun ar Rasdid ) memasukkan racun kedalam bubur gandum yang dimakan Imam Musa al Kazim as. Imam berada 4 tahun dalam penjara sebelum sahid.
Kelima
Imam Ali Ar Reza telah dibunuh dengan racun – pada nota kaki dipetik dari Abul Faraj Al- Isfahani, Muqatil Ath- Thalibiyyin halaman 378
Keenam
Ibnu Bubuwaih mengatakan al Mutashim telah meracun Imam Muhammad bin Ali al Jawad as – pada nota kaki dipetik dari Ibnu Syahrasyub, Al-Manaqib Jld IV. Al Majlisi juga menyebutnya dalam Bihar Al Anwar Jld I
Saudara pembaca,
Jika hadis al Kulani di atas dianggap betul bermakna 6 orang Imam atau ahlbait nabi saw adalah membunuh diri , kerana mereka as mengetahui makanan beracun tetapi terus memakannya. Ini adalah mustahil sifat seorang ahlbait nabi saw.
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan dipegangnya untuk menikam perutnya di neraka Jahanam. Hal itu akan berlangsung terus selamanya. Barang siapa yang minum racun sampai mati, maka ia akan meminumnya pelan-pelan di neraka Jahanam selama-lamanya. Barang siapa yang menjatuhkan diri dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan jatuh di neraka Jahanam selama-lamanya. (Shahih Muslim No.158)
Siyah tidak mempercayai hadis nabi saw sendiri termakan racun, tetapi dalam masa yang sama mereka tidak sedar Imam meraka seramai 6 orang termakan racun !
Hadis riwayat Anas ra.:
Bahwa seorang perempuan Yahudi datang kepada Rasulullah saw. dengan membawa hidangan daging kambing yang telah diracuni kemudian Rasulullah saw. memakan sebagiannya. Lalu perempuan itu dihadapkan kepada Rasulullah saw. dan ditanyakan tentang perbuatannya tersebut, dia menjawab: Aku memang bermaksud hendak membunuhmu. Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan memberikan kekuasaan kepadamu untuk melakukan hal itu. Menurut satu riwayat, ada tambahan kalimat terhadapku. Para sahabat bertanya: Bolehkah kami membunuh perempuan ini? Rasulullah saw. bersabda: Jangan! Anas berkata: Aku masih tetap mengenalinya (wanita itu) karena hendak mencelakakan Rasulullah saw. tersebut. (Shahih Muslim No.4060)
Catitan hujung:
Saudara pembaca,
Al Kulaini juga  meriwayatkan di Al Kafi : Bab Sesungguhnya para imam, jika mereka berkehendak untuk mengetahui, maka mereka pasti mengetahuinya. Dari Jafar ia berkata : Sesungguhnya Imam jika ia berkehendak mengetahui, maka ia pasti mengetahui, dan sesungguhnya para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan sesungguhnya mereka tidak akan mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri.
Apabila saudara membaca hadis-hadis Syiah di atas baca bersama Firman Allah berikut dan buat penilaian sendiri :
ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ
ﯬ
Dan di sisi Allah jualah segala yang ghaib, tiada sesiapa yang mengetahui apa yang ada di darat dan di laut; dan tidak gugur sehelai daun pun melainkan Ia mengetahuinya, dan tidak gugur sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak yang basah dan yang kering, melainkan (semuanya) ada tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuz) yang terang nyata. (Surah al-An’am ayat 59)
ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ
Sesungguhnya di sisi Allah pengetahuan yang tepat tentang hari Kiamat. Dan Dialah jua yang menurunkan hujan, dan yang mengetahui tentang apa yang ada dalam rahim (ibu mengandung). Dan tiada seorang pun yang betul mengetahui apa yang akan diusahakannya esok; dan tiada dapat diketahui oleh seseorang itu di bumi negeri manakah ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Amat Meliputi pengetahuan-Nya ( Surah Lukman 34 )

Kenali Syiah : Bila Syiah Muncul

Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi`ah sendiri.
Al Qummi berkata dalam bukunya Al Maqaalaat wal Firaq3.1 : Ia mengakui keberadaannya, dan menganggabnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj`iyah Ali3.2, dan menampakkan celaan terhadap Abi Bakr, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya Firaqus Syi`ah3.3. Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan Rijaalul Kissyi3.4. Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar Rafidhah.
Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebiahn lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.
Al Baghdadi berkata juga : adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibah3.5 dan akidah raj`iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya syi`ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid`ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj`iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan3.6, karena mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.

Penamaan ini disebutkan oleh syeikh mereka Al Majlisi dalam bukunya Al Bihaar dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka3.7.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!, lalu beliau menjawab : Mereka berdua (Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka. Mereka berkata : Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai`at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah3.8.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar3.9.
Dan dikatakan mereka dimanakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama3.10.
Rafidhah Terpecah Menjadi Berapa Firqoh (Golongan)?
Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma`arif bahwasanya : golongan yang muncul dari cabang-cabang syi`ah jauh melebihi dari angka tujuhpuluh tiga golongan yang terkenal itu3.11.
Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad3.12, sesungguhnya seluruh firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini menjadi tujuhpuluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi`ah. Dan sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.
Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga ratus) firqoh3.13.
As Syahrastaani berkata : Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al Ismailiyah3.14.
Al Baghdadi berkata : Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan : Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah.3.15
Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari firqoh-forqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.
Apakah dimaksud dengan akidah Al Badaa` yang diimani oleh Rafidhah?
Al Badaa` yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna timbulnya pandangan baru. Al Badaa` sesuai dengan kedua makna itu, haruslah didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah) menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa`.
Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : Saya telah mendengar Al Ridha berkata : Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa`3.16. Dan dari Abi Abdillah ia berkata : Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa`3.17. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.
Lihatlah wahai saudarku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta`ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan tentang diri-Nya :
Artinya : Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu ghaib kecuali Allah.
Dan di sisi lain Rafidhah (syi`ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.
Apakah ini keyakinan Islam (akidah Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad – Shallallahu ‘alaihi wa sallam – ??????

3.1Lihat Al Maqaalaat wal Firaq oleh Al Qummi, hal : 10-21.
3.2Keyakinan bahwa Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiyamat.
3.3Lihat Firaqus Syi`ah oleh An Nubakhti, hal : 19-20.
3.4Lihat : apa yang dicantumkan oleh Al Kissyi dalam beberapa riwayat dari Ibnu Saba dan akidah- akidahnya, lihat no : 170, 171, 172, 173, 174, dari hal : 106-108.
3.5Keyakinan menghilangnya imam Askari yang mereka tunggu-tunggu.
3.6Ushul `Itiqad Ahli Sunnah Wal Jama`ah, Al Lalikaai, 1/22-23.
3.7Lihat buku : Al Bihaar, oleh Al Majlisi, hal : 68-96-97. (Dia ini merupakan salah seorang tempat bertanya orang-orang rafidhah (syi`ah) untuk zaman-zaman terakhir).
3.8At Ta`liiqaatu `Ala Matni Lum`atil `Itiqaad, oleh : Syeikh Alaamah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, – semoga Allah menjaganya-, hal : 108.
3.9Lihat : catatan kaki buku Maqaalaat Al Islamiyiin, oleh Muhyiddin Abdul Hamid, (1/89).
3.10Lihat : di buku Maqaalaat Al Islamiyiin, (1/89).
3.11Daairatul Ma`arif, (4/67).
3.12Dia adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Al Asadi, termasuk tokoh besar syi`ah.
3.13Dia adalah Al Maqrizi du Al Khuthath, ((2/351).
3.14Al Milal wan Nihal, oleh As Syahrastani, hal :147.
3.15Al Farqu Bainal Firaq, oleh Al Baghdadi, hal : 41.
3.16Ushulul Kafi, hal :40
3.17Ushulul Kafi, oleh Al Kulaini di kitab tauhid : 1/133.
Dipetik dari tulisan  Akidah Syiah  oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Penerjemah : Muhammad Elvi Syam, Lc  ( SalafiDB )

Surat Khalifah Ali ra Kepada Muawiah Bin Abi Sufian ra

SURAT 6 ( Daripada Kitab Syiah Nahjul Balagah )

Kepada Mu’âwiah (ibn Abi Sufyân)
Sesungguhnya orang-orang yang membaiat kepada Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman telah membaiat kepada saya atas dasar yang sama di mana mereka membaiat kepada mereka. (Atas dasar ini) orang yang hadir tidak mempunyai pilihan (untuk mempertimbangkan), dan orang yang tak hadir tidak berhak untuk menolak; dan suatu musyawarah dibataskan pada Muhajirin dan Anshar.
Apabila mereka menyetujui seorang individu dan mengambilnya sebagai pemimpin (khalifah), hal itu dianggap bermakna keridhaan Allah. Apabila seseorang menjauh dengan jalan keberatan atau menuntut perubahan, mereka akan mengembalikannya kepada posisi dari mana ia menjauh.
Apabila ia menolak, mereka akan memeranginya karena mengikuti jalan yang lain dari jalan kaum mukmin, dan Allah menempatkannya kembali (ke asal) dari mana ia melarikan diri.
Demi hidupku, hai Mu’awiah, apabila engkau melihat dengan akalmu tanpa nafsu, maka engkau akan mendapatkan saya orang yang paling tak berdosa dari semua berkaitan dengan darah ‘Utsman, dan tentulah engkau akan melihat bahwa saya dalam keadaan terkucil darinya, kecuali apabila engkau menyembunyikan apa yang sangat terbuka bagimu. Maka engkau boleh melakukan keberangan (pada saya) sesuka hatimu.
Wasalam. •
Pada Surat ke 7 ( juga surat kepada Muawiah ) sebahagianya ada tercatit  :  Orang yang tinggal di luarnya ( tidak membait khalifah ) dianggap mengecam Islam, sementara orang yang berbicara putar balik atasnya adalah munafik.
Catitan : Jika saudara pembaca tidak memiliki kitab rujukan bercetak – saudara boleh layari alamat berikut : http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/index.htm   . Klik pada surat-surat.
Ulasan:
Saya dapat membuat kesimpulan dari surat ini :
1. Ali ra mengakui apabila Abu Bakar ra di lantik sebagai Khalifah ,maka ia ( Ali ra ) yang tidak hadir di majlis mesyuarah di Balai Bani Saadah , TIDAK berhak menolak perlantikan Abu Bakar ra.
2. Ali ra memahami apabila Abu Bakar ra dilantik oleh umat dan menyetujuinya maka dianggap keridaan Allah.
3. Ali ra memahami sesiapa menolak Abu Bakar ra  dan juga menolak beliau ra sendiri sebagai Khalifah berhak di perangi.
4. Perinsip yang sama Ali ra berharap umat islam membait beliau.
5. Saya berkeyakinan pengikut Syiah tidak mengikut perinsip Imam mereka sendiri malah sentiasa memalsukan sejarah.

Nahjul Balaghah : Khutbah Ali r.a – Khutbah 91

Oleh : Aburedza
Sahabat saya Abu Hassan , seorang Syiah , dalam emailnya terus mengatakan  kekhalifahan selepas Rasullah saw adalah hak Ali as .  Abu Bakar ra, Umar ra dan Usman ra adalah perampas.  Tuduhan itu tidak betul jika di nilai dari kata-kata Imam Ali as sendiri.  Sila rujuk Kitab Nahjul Balaghah , khutbah ke 92 . Kitab Nahjul Balaghah adalah termasuk kitab Syiah yang utama. Saya salin seperti terjemahan Indonesia. Sila baca juga catitan kaki oleh penyusun Sayid Radhi :
KHOTBAH 91
Ketika orang-orang memutuskan untuk membaiat Amirul Mukminin setelah pembunuhan ‘Utsman,[1] ia berkata:
Tinggalkan saya dan carilah orang lain. Kita sedang menghadapi suatu hal yang mempunyai (beberapa) wajah dan warna, yang tak dapat ditahan hati dan tak dapat diterima akal. Awan sedang menggelantung di langit, dan wajah-wajah tak dapat dibedakan. Anda seharusnya tahu bahwa apabila saya menyambut Anda, saya akan memimpin Anda sebagaimana saya ketahui, dan tidak akan memusingkan apa pun yang mungkin dikatakan atau dicercakan orang. Apabila Anda meninggalkan saya maka saya sama dengan Anda. Mungkin saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat ketimbang seorang kepala. •

[1] Setelah pembunuhan ‘Utsman, kursi kekhalifahan tertinggal kosong, dan kaum Muslim mulai melihat kepada Ali a.s. yang berperangai damai, kukuh pada prinsip, dan perilakunya telah banyak mereka saksikan selama masa panjang itu. Akibatnya, mereka berduyun-duyun menyerbunya untuk menyampaikan baiat kepadanya seperti musafir tersesat melihat tujuannya. Mereka menyerbu ke arah-nya, sebagaimana dicatat sejarawan Thabari, “Orang maju berdesakan-desakan kepada Ali seraya mengatakan, ‘Kami hendak membaiat kepada Anda dan Anda melihat kekacauan apa yang menimpa Islam dan kita sedang dicoba tentang kerabat Nabi.’” (Tārīkh, I, h. 3066, 3067, 3076)
Tetapi Amirul Mukminin menolak permohonan mereka. Karenanya rakyat berteriak-teriak dengan kacau dan berseru dengan nyaring, “Hai Abu Hasan, apakah Anda tidak menyaksikan kehancuran Islam atau melihat datangnya banjir kerusuhan dan bencana? Apakah Anda tidak takut kepada Allah?” Namun demikian Amirul Mukminin tidak menunjukkan kesediaan untuk menyetujuinya, karena ia melihat bahwa eiek dari suasana yang terjadi setelah wafatnya Nabi telah menguasai hati dan pikiran rakyat; keakuan dan hawa nafsu untuk kekuasaan telah berakar di hati mereka, pikiran mereka telah dipengaruhi materialisme, dan mereka telah terbiasa memperlakukan pemerintah sebagai sarana untuk mendapatkan maksud mereka. Sekarang mereka hendak mematerialkan dan mempermainkan kekhalifahan Ilahi pula. Dalam keadaan itu mustahil mengubah mentalitas atau mengalihkan arah temperamen mereka. Selain dari itu, ia pun melihat bahwa rakyat harus mendapatkan waktu lebih panjang untuk berpikir agar kelak mereka tidak mengatakan bahwa baiat mereka telah diberikan di bawah kebutuhan temporer dan pemikiran sewaktu dan tanpa pemikiran matang, tepat sebagaimana gagasan ‘Umar tentang kekhalifahan pertama, yang muncul dalam pernyataannya,
“Kekhalifahan Abu Bakar terjadi tanpa dipikirkan, tetapi Allah menyelamat-kan kita dari bencananya. Apabila seseorang mengulangi hal semacam itu, ia harus dibunuh. (al-Bukhari ash-Shahih, VIII, h. 210-211; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 55; Thabarf, I, h. 1822; Ibn Atsir, II, h. 327; Ibn Hisyam, IV, h. 308-309; Ibn Katsir, V, h. 246)
Singkatnya, ketika desakan mereka meningkat melampaui batas, Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini, di mana ia menjelaskan bahwa “Apabila Anda menghendaki saya demi tujuan-tujuan duniawi Anda, maka saya tidak siap melayani sebagai alat Anda. Tinggalkan saya dan pilihlah seseorang lain yang mungkin memenuhi tujuan Anda. Anda telah melihat kehidupan masa lalu saya bahwa saya tidak bersedia mengikuti apa pun selain Al-Qur’an dan Sunah, dan tidak akan melepaskan prinsip ini untuk mendapatkan kekuasaan. Apabila Anda memilih seseorang lain, saya akan menghormati hukum negara dan konstitusi sebagaimana warga yang suka damai. Tidak pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Malah, justru demi memelihara kebaikan bersama, sampai saat ini saya memberikan nasihat yang benar, saya tak akan enggan untuk berbuat sama seperti itu. Apabila Anda biarkan saya dalam kedudukan yang sama, hal itu adalah lebih baik bagi tujuan duniawi Anda, karena dalam hal itu saya tidak memegang kekuasaan untuk menghalangi urusan duniawi Anda dan menciptakan rintangan terhadap keinginan hati Anda. Tetapi, jika Anda telah bertekad untuk membaiat kepada saya, ingatlah bahwa apabila Anda menger-nyitkan dahi atau berbicara menentang saya maka saya akan memaksa Anda me-langkah pada jalan yang benar, dan dalam hal kebenaran saya tidak akan peduli terhadap siapa pun. Apabila Anda hendak membaiat walaupun dengan ketentuan ini, Anda boleh memuaskan kehendak Anda.”
Kesan yang telah dibentuk oleh Amirul Mukminin tentang orang-orang ini sesuai sepenuhnya dengan kejadian-kejadian di kemudian hari. Ketika orang-orang yang telah membaiat dengan motif-motif duniawi tidak berhasil dalam tujuannya, mereka kemudian membelot dan bangkit melawan pemerintahannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.

Catitan hujung :
Perhatikan kata-kata Imam Ali as : saya akan mendengarkan dan menaati siapa pun yang Anda jadikan pengurus urusan Anda. Saya lebih baik bagi Anda sebagai penasihat berbanding seorang ketua.
Perhatikan juga ulasan penyusun pada nota kaki :  Tidak pernah saya mencoba memecah kehidupan kolektif kaum Muslim dengan menghasut untuk memberontak. Hal yang sama akan terjadi sekarang. Jadi bagaimana mungkin di katakan Imam Ali as  membantah kekahalifahan Abu Bakar ra , Umar ra dan Usman ra ?
Jika jawatan khalifah adalah  hak atau arahan Allah , maka Ali as tidak akan menolaknya. Menolaknya adalah derhaka dan berdosa.
Saudara pembaca mengapa Syiah mendustai Imam mereka sendiri ? Saudara boleh membaca tulisan saya sebelum ini di http://aburedza.wordpress.com/2009/06/15/surat-khalifah-ali-ra-kepada-muawiiah-bin-abi-sufian-ra/  mengenai   Surat Khalifah Ali ra Kepada Muawiah Bin Abi Sufian ra

Syiah Memfitnah Nabi s.a.w : Mukjizat Keldai

Tulisan berikut adalah pengakuan seorang Ulama Syiah  dipetik dari buku beliau
“Suatu pengakuan dan pengiktirafan Ulama Syiah terhadap Allah dan sejarah – suatu pembongkaran rahsia yang terpendam dan pembersihan diri Imam-imam yang athaar  “
atau buku terjemahannya  Kenapa Aku Meninggalkan Syiah
Karangan Al-Syeikh Al-Allamah Dr. Sayid Husain Al-Musawi Al-Husaini.

Daripada Amirul Mukminin a  bahawa ‘Ufair iaitu
keldai Rasulullah s  berkata kepada baginda: Ku tebus diri mu
dengan ibu bapa ku wahai Rasulullah! Sesungguhnya bapa ku
meriwayatkan kepada ku daripada bapanya daripada datuknya
daripada moyangnya: “Bahawa dia bersama Nuh a  di dalam
kapal. Maka Nabi Nuh a  datang kepadanya dan mengusap atas
punggungnya kemudian berkata: Akan keluar daripada
keturunan keldai ini seekor keldai yang akan ditunggang oleh
Penghulu dan Penutup Sekalian Nabi. Maka syukur kepada
Allah yang menjadikan ku keldai tersebut.
( 1/237 : أصول الكافي  )

Riwayat ini menerangkan kepada kita perkara berikut:

1. Keldai bercakap!

2. Keldai berbicara kepada Rasulullah s dengan katanya:
“Ku tebus diri mu wahai Rasulullah dengan ibu bapa
ku!” sedangkan kaum Musliminlah yang menebus
Rasulullah s dengan ibu bapa mereka bukannya keldai.

3. Keldai berkata: “Bapa ku meriwayatkan kepada ku
daripada datuk yang keempat!”  sedangkan antara
Nabi Nuh a dan Nabi Muhammad s terpisah ribuan
tahun. Bagaimana Keldai Rasulullah s boleh
mengatakan datuknya yang keempat ada bersama Nuh
a di dalam kapal
.

Pernah sekali kami membaca  “ أصول الكافي  ” bersama sebahagian penuntut Al-Hauzah Al-
Ilmiah di Najaf bergurukan Al-Imam Al-Khu’i dan beliau mengatakan:

“Lihatlah mukjizat ini. Nuh amemberitahu tentang
Muhammad s dan kenabiannya sebelum kelahiran
baginda sejak ribuan tahun yang lampau.”

Kata-kata Al-Imam Al-Khu’i masih kekal terngiangngiang
seketika dan aku membisikkan di dalam hati bagaimana
boleh dikatakan mukjizat sedangkan keldai berkata kepada
Rasulullah s: “Ku tebus diri mu wahai Rasulullah dengan ibu
bapa ku!” Dan bagaimana pula Amirul Mukminin a boleh
menukilkan riwayat sebegini!?

Khomeini: SAYYIDATINA FATIMAH MENERIMA WAHYU

SAYYIDATINA FATIMAH MENERIMA WAHYU
Antara pendapat Khomeini lagi dia mengatakan Sayyidatina Fatimah menerima wahyu daripada Malaikat Jibril selepas Baginda s.a.w. wafat. Beliau berkata:-
Khomeini
“Dalam hadith disebut bahawa selepas baginda wafat, Malaikat Jibril datang kepada Fatimah membawa beberapa berita ghaib dan Amiral-mu’minin (Ali) menjalankan tugas menulis berita ghaib itu dan itulah dia Mashaf Fatimah” – Rujuk “Kasyf al-Asrar”, hal: 143.
Ulasan Oleh Zakaria @ Mahmud Daud :
Adakah seseorang selain daripada Nabi dan Rasul menerima wahyu Allah? Mengikut aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah, orang yang menerima wahyu Allah hanya Nabi dan Rasul sahaja. Anak-anak para Rasul tidak pernah menerima wahyu kecuali jika dia juga menjadi nabi, seperti Nabi Sulaiman anak Nabi Daud a.s.
Apakah yang dimaksudkan oleh Khomeini bahawa wahyu tersebut adalah ‘Mashaf Fatimah’? Adakah ia memberi maksud, “al-Quran lain yang diturunkan kepada Fatimah sebagai tambahan kepada al-Quran mashaf Uthman? Kalau inilah maksudnya, adakah ia berbeza dengan al-Quran mashaf ‘Othman itu? Jika “Ya!”, maka sikap Khomeini itu sama dengan sikap ulama-ulama Syiah lain yang mengatakan al-Quran mashaf Uthman yang ada sekarang telah diubah dan dikurangkan beberapa ayat oleh Saidina Uthman. Manakala mashaf yang tidak diubah ialah “Mashaf Fatimah”.
Baca selanjutnya di: http://aburedza.wordpress.com/2009/11/22/pandangan-imam-khomeini-dalam-kitab-al-hukumah-al-islamiah-dan-kasyfu-al-asrar/

Adakah Nabi Syuib a.s Bapa Mertua Kepada Nabi Musa a.s ?

Adakah Nabi Syuib a.s Bapa Mertua Kepada Nabi Musa a.s ?
Adalah satu kenyataan umum  bahawa  Nabi Musa a.s  adalah menantu Nabi Syuib a.s. Al Quran menceritakan selepas Nabi Musa a.s cuba meleraikan satu pergaduhan, secara tidak senaja beliau telah membunuh seorang bangsa Mesir. Kerana ketakutan dihukum oleh Firaun beliau telah melarikan diri ke Madyan.[1]
21. Musa pun keluarlah dari negeri itu dalam keadaan cemas sambil memerhatikan (berita mengenai dirinya) serta berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhanku, selamatkanlah daku dari kaum yang zalim “.
22. dan setelah ia (meninggalkan Mesir dalam perjalanan) menuju ke negeri Madyan, berdoalah ia dengan berkata: “Mudah-mudahan Tuhanku menunjukkan jalan yang benar kepadaku,”.
23. dan ketika dia sampai di telaga air negeri Madyan, ia dapati di situ sekumpulan orang-orang lelaki sedang memberi minum (binatang ternak masing-masing), dan ia juga dapati di sebelah mereka dua perempuan yang sedang menahan kambing-kambingnya. Dia bertanya: “Apa hal kamu berdua?” mereka menjawab: “Kami tidak memberi minum (kambing-kambing kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya “.
Al Qashash 21-23
25. kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata:” sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami”. maka ketika Musa datang mendapatkannya dan menceritakan kepadanya kisah-kisah kejadian yang berlaku (mengenai dirinya) berkatalah orang tua itu kepadanya: “Janganlah engkau bimbang, engkau telah selamat dari kaum yang zalim itu “.
26. salah seorang di antara perempuan yang berdua itu berkata: “Wahai ayah, ambilah dia memjadi orang upahan (mengembala kambing kita), Sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat, lagi amanah”.
27. bapa perempuan itu berkata (kepada Musa): “Aku hendak mengahwinkanmu dengan salah seorang dari dua anak perempuanku ini, dengan syarat bahawa engkau bekerja denganku selama delapan tahun; Dalam pada itu, jika engkau genapkan menjadi sepuluh tahun, maka yang demikian itu adalah dari kerelaanmu sendiri. dan (ingatlah) Aku tidak bertujuan hendak menyusahkanmu; engkau akan dapati aku insya Allah, dari orang-orang yang baik layanannya”.
28. Musa menjawab: “Perjanjian itu adalah antaraku denganmu (tetap dihormati bersama); Yang mana sahaja dari dua tempoh itu yang aku tunaikan, maka janganlah hendaknya aku disalahkan dan Allah jualah menjadi pengawas terhadap apa yang kita katakan itu”.
Al Qashash 23-28
Ayah kepada kedua wanita tersebut  tidak disebut identitinya oleh Allah. Bagaimanapun beliau telah disebut sebagai Nabi Syuib a.s.
Untuk membuka minda  kita perhatikan nasab keduanya. Ibn Katsir dalam Kisah Para Nabi menulis nasab keduanya seperti berikut;
Syuib bin Mikayel bin Yasyjon , pendapat ini mengikut ibnu Ishak. Ada pula mengatakan  Syuib bin Yasykhar bin Lawwi bin Yakob. Adapula yang mengatakan Syuib bin Nuwaib bin ‘Aifa bin Madyan bin Ibrahim. Ada pula yang mengatakan ibu atau datuk Nabi Syuib adalah anak perempuan nabi Lut. [2]
Musa bin Iram bin Qahats bin ‘Aazar bin Lawwi bin Yaakub bin Ishak bin Ibrahim a.s [3]. Ibn Katsir menyebut dari sumber Ahli Kitab , nabi Musa a.s meninggal dunia pada umur 120 tahun.
Dari nasab di atas zaman Syuib a.s adalah lebih dekat kepada Nabi Ibrahim berbanding nabi Musa a.s. Syuib a.s adalah keturunan ke 4 atau ke 5 selepas nabi Ibrahim al Khalil . Nabi Musa pula adakah keturunan ke 7 selepas nabi Ibrahim al Khalil. Sayangnya kita tidak mengetahu umur nabi Syuib a.s. Saya berkeyakinan atas sebab ini Maulana Abdullah Yusof Ali  di dalam Al Quran Karim , Terjemahan Dan Huraian Maksud, tidak bersetuju bapa kedua wanita persebut adalah nabi Syuib a.s. Beliau berpendapat :
Pendapat yang menyamakan baginda (Syuib a.s) dengan Jethro[4] , ayah mertua nabi Musa a.s , nampaknya tidak mempunyai bukti, dan saya tidak menerimanya …….. jika Syuib adalah keturunan ke empat selepas Ibrahim bermakna Syuib berada pada zaman satu abad selepas nabi Ibrahim  ……  Bible pula memberitahu Mus a.s berada pada abad ke 4 atau ke 6 selepas Nabi Ibrahim.[5]
Kisah nabi Nuh, Hud, Lut,  dan Syuib a.s  nampaknya tersusun dengan tertib dari susunan masanya ……  kalaulah nabi Syuib berada pada keturunan ke 4 selepas Ibrahim  maka mustahil pula baginda  menjadi se zaman nabi Musa yang datang beberapa abad yang banyak kemudiannya. Kesulitan ini diakui oleh Ibn Katsir dan lain-lain ahli tafsir klasik.[6]
Lantaran pendapat Maulana Abdullah Yusof Ali tersebut saya mengutip tulisan Ibn Katsir pada mebicarakan tentang Nabi Musa dan bapa mertuanya[7]:

Para ahli tafsir berbeza pendapat mengenai siapakah sebenarnya orang tua (bapa  kepada 2 wanita) yang dimaksudkan itu? Sebahagian ahli tafsir berpcndapat bahawa beliau adalan Nabi Syuib a.s .. Pendapat ini yang paling masyhur dan dapat ditcrima. Hasan al-Basri dan Malik bin Anas termasuk di dalamnya. Sebahagian ulama yang lain menjelaskan bahawa Syuib a.s. terus hidup lebih lama lagi setelah kehancuran kaumnya. Semasa hidupnya beliau bertcmu dengan masa kehidupan Musa a.s. dan beliau menikahkan  puterinya dengan Musa a.s.


Ibnu Abu Hatim dan periwayat lain menyatakan keterangan yang diterima dari Hasan al-Basri bahawa teman (orangtua / bapa kepada 2 wanita tersebut) itu adalah Syuib. Beliau inilah yang memiliki sumber ayer itu tetapi beliau bukan seorang nabi yang diutus kepada penduduk Madyan. Adapun yang lain pula menyatakan bahawa beliau adalah anak lelaki  daripada saudaranya (Nabi Syuib a.s). Adapun yang lain berkata bahawa beliau adalah seorang mukmin dari kaum Syuib.


Ada lagi yang berkata bahawa beliau bernama Yathran. Seorang kahin di Madyan, iaitu orang yang paling pintar di negeri itu. Demikian menurut keterangan Ahli Kitab dalam catatan kitab mercka. lbnu Abbas dan Abu Ubaidah bin Abdullah mengatakan bahawa nama orang tua itu ,ialah Yathran. Abu Ubaidah menambah bahawa dia adalah anak saudara nabi Syuib a.s . Ibnu Abbas menambah bahawa dia adalah penduduk jati Madyan.

Demikian pendapat ulama mengenai siapa sebenarnya bapa mertua nabi Musa a.s. Sesungguhnya Allah yang maha mengetahuinya.


[1] Terletak di selatan Syam. Dekat  Telok Aqabah dan ke Timur Semenanjung Sinai. Madyan adalah tanah orang Arab. Negeri kaum Luth dekat dengan negeri Madyan. Madyan adalah nama bagi anak nabi Ibrahim al Khalil.
[2] Kisah Para Nabi – Darul Fajr m.s 285
[3] Kisah Para nabi – Darul Fajr m.s  397
[4] Nabi Syuaib juga disebut Jethro berdasarkan versi Injil Kristian.
[5] Al Quran Karim , Terjemahan Dan Hurain Maksud – Dewan Bahasa Dan Pustaka m.s 689. Tafsir surah al A’raf 85
[6] Al Quran Karim , Terjemahan Dan Hurain Maksud – Dewan Bahasa Dan Pustaka m.s 696. Tafsir surah al A’raf 93
[7] Kisah Para Nabi – Darul Fajr m.s 414-415

Surat Khalifah Umar r.a kepada Abu Musa al-Asy’ari r.a

Antara kandungan surat Khalifah Umar r.a  kepada Abu Musa al-Asy’ari r.a, gubernur di Basrah, menyebut :
“Adapun  sesudah  itu,  sesungguhnya  menegakkan  hukum  (al qadla)   adalah  suatu  kewajiban  yang  pasti  dan  tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka  pahamilah  jika  sesuatu diajukan  orang  kepadamu.  Sebab,  tidaklah  ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat  dilaksanakan.
Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang  berkedudukan tinggi  (syarif)  tidak  sempat  berharap  akan  keadilanmu.
Memberi bukti adalah wajib  atas  orang  yang  menuduh,  dan mengucapkan   sumpah   wajib  bagi  orang  yang  mengingkari (tuduhan).    Sedangkan    kompromi    (ishlah,    berdama) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan  hal  yang halal.
Dan  janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan  dengan  perkara  yang  telah  kau putuskan  kemarin  tetapi  kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang  benar;  sebab  kebenaran  itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih  baik  daripada  berketerusan dalam kebatilan.
Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab  dan Sunnah,   kemudian   temukanlah   segi-segi   kemiripan  dan kesamaannya,  dan  selanjutnya   buatlah   analogi   tentang berbagai  perkara  itu,  lalu  berpeganglah  pada  segi yang paling  mirip  dengan   yang   benar.
Untuk   orang   yang mendakwahkan  kebenaran  atau  bukti, berilah tenggang waktu yang  harus  ia  gunakan  dengan  sebaik-baiknya.  Jika   ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan  haknya.  Tetapi  jika  tidak,  maka anggaplah  benar  keputusan  (yang  kau  ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan,dan  lebih  jelas  dari  ketidakpastian  (al-a’ma, kebutaan,kegelapan)
Barang siapa  telah  benar  niatnya  kemudian teguh  memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa  yang  terjadi  antara  dia  dan  orang banyak.
Dan  barang  siapa  bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya  (tidak  tulus), maka Allah akan menghinakannya …”
Sumber : Dipetik dari tulisan oleh  Nurcholish Madjid  bertajuk  TAQLID DAN IJTIHAD : MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA

Kelaurga Ali bin Abi Thalib ra

Kelaurga Ali bin Abi Thalib ra

Dia adalah cucu Abdul Mutthalib, sepupu Rasulullah saw. Dia dilahirkan oleh Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Fatimah adalah wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan keturunan dari Bani Hasyim. Masuk Islam di Mekah lalu hijrah ke Madinah dan wafat pada zaman Rasulullah saw.
Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fatimah puteri Rasulullah saw. Kemudian lahirlah Hasan, Husein dan Muhassin dari pernikahan ini. Tetapi Muhassin wafat tatkala masih kecil.
Putera-Puteri yang lain
1.Muhammad bin Hanafiah. Ia dilahirkan oleh Khaulah binti Ja’far, dari Bani Hanifah.
2,3. Umar bin Ali dan saudirnya Ruqayyah al Kubro
4. Al Abbas al Akbar bin Ali, disebut juga asSaqa. Ia terbunuh bersama Husein
5,6,7,8. Usman, Ja’far, Abdullah dan Banu Ali. Mereka saudara seayah dan seibu al Abbas al Akbar. Adapun ibu mereka adalah Ummul Banin al Kilabiyah.
9,10. Ubaidullah dan Abu Bakar. Mereka tidak punya keturunan. Mereka dilahirkan oleh Laila binti Mas’ud anNahsyaliyyah
11. Yahya bin Ali. Meninggal saat masih kecil. Lahir dari Asma’ binti Umais
12. Muhammad bin Ali alAshghar ibumya adalah seorang budak yang bernama Daraj.
13.,14. Ummul Hasan dan Ramlah. Mereka dilahikan Ummu Sa’d binti Urwah bin Mas’ud ats Tsaqofi.
15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25.Zaenab as Sughra, Ummu Kultsum as Sughra, Ruqayyah as Sughra, Ummu Hani’, Ummul Kiram, Umu Ja’far (nama aslinya Jumanah), Ummu Salamah, Maimunah, Khadijah, Fatimah, dan Umamah. Mereka ini dilahirkan dari para ibu yang berbeda-beda.

Rujukan : Sejarah Rasullah Oleh Syekh Imam Al-Hafiz Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy –semoga Allah SWT meridhainya

Kufah, 17 Ramadan Tahun 40 Hijrah

16 Ogo

 
Kufah, 17 Ramadan Tahun 40 Hijrah: Kufah menjadi gempar dengan berita Khalifah Ali r.a dibunuh oleh seorang puak Khawarij bernama Ab. Rahman bin Muljam, selepas sembahyang Subuh di Masjid Kufah.
Khawarij memandang Ali r.a, Mu’awiyah r.a, Amr bin Ash r.a  dan Abu Musa al-Asy’ari r.a adalah kafir. Karena itu mereka berpakat untuk membunuh keempat sahabat tersebut. Bagaimanapun rancangan mereka hanya berjaya ke atas Ali.
Bagaimanapun ada pendapat mengatakan Ali r.a di tikam pada 19 Ramadan dan gugur syahid padatanggal 21 Ramadhan atau dua hari setelah peristiwa tikaman itu terjadi. Ada juga pendapat mengatakan beliau sahid pada 18 atau 19 Ramadan.  Sesungguhnya Allah yang maha tahu.
Dimanakah makam Ali bin Abi Thalib r.a  ?
Wikipidia melaporkan : Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Talib r.a. berlangsung kira-kira lima tahun sahaja  iaitu pada 35H – 40H. Perlantikan Ali r.a  menjadi khalifah keempat dari khulafa’ ar-rasyidin  iaitu selepas  wafatnya khalifah ketiga Utsman bin Affanr.a, yang dibunuh oleh sekelompok pemberontak dari Mesir. Ada pendapat mengatakan Usman r.a sahid pada 8 atau 12 Zulhijah 35 Hijriah.

Wednesday, 12 October 2011

Cerita Pendek Buat Sahabat=)

1296558715201572954“…jelas menatap awan berarak..wajah murung semakin terlihat,..dengan langkah gontai tak terarah,..keringat bercampur debu jalanan…”  Syair lagu itupun terus melantun dikamar seorang lelaki.
***
Dipagi yang basah,seorang lelaki berjalan mengelilingi desa dimana ia  baru menjalani kehidupan pada komunitas yang baru saja ia tinggalkan yaitu  Jakarta.Bukan karena kalah dalam persaingan hidup tetapi ia mencoba  untuk mengerti tentang hidup. Dia seorang lelaki setengah tua, baru setahun ia hidup didesa makanya ia mencoba untuk berkenalan dengan hidup yang sesungguhnya.
Selama ini memang ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan karier yang digelutinya, hingga ia lupa bahwa semua itu ada waktunya. Semua harus berjalan sesuai dengan kodrat alam yang telah Tuhan berikan pada kita sebagai umatnya.
Hampir empat puluh tahun ia habiskan hidup  diJakarta yang penuh dengan romantika dan penuh dengan hingar bingarnya musik persaingan yang sangat ketat  memekikan telinga hingga kita merasa lelah dengan persoalan kita masing-masing. Itulah hidup yang sarat dengan persoalan. Di usia yang seperti itu memang tak terlalu tua,mungkin bagi seorang yang cukup sukses  usia seperti seorang lelaki itu sedang berada dipuncaknya. Sayang, lelaki itu hanya seorang karyawan kontrak, habis kontrak maka habislah semua apa-apa yang menjadi haknya sebagai karyawan.Apalah daya kekuatan hukumpun tak  mendukung untuk menuntut.Memang sangat ironis dengan keadan seperti itu,berhenti bekerja tanpa pesangon atau uang pensiun untuk menikmati hidup dengan layak.
Untungnya  lelaki itu sudah memiliki rumah, ia bangun setahun yang lalu disebuah desa yang saat ini ia  baru tempati. Hasil dari jerih payahnya ia kumpulkan sedikit demi  sedikit meski harus berhutang dengan bank. Ia masih bersyukur tidak memikirkan rumah, pasalnya banyak teman-temannya merasa begitu bingung dan terpukul ketika cicilan rumah baru setahun, tiba-tiba kontrak kerja habis dan tak diperpanjang. Apalah daya kami hanya pasrah pada keputusan yang  mungkin agak menyakitkan.Kami memang
orang-rang  yang tak berduit tidak seperti para pejabat yang bisa membeli hukum atau menyewa pengacara. Tapi kami bukan kumpulan orang-orang terbuang, kami juga sama dengan mahluk hidup yang lain. Perlu makan dan hidup dengan layak.
****
Tiba-tiba lelaki itu terpana dan menghentikan lamunannya. Ia terus berjalan menelusuri pagi. Matahari baru saja memancarkan sinarnya, burung-burung pun mulai berterbangan dan meloncat dari dahan kedahan yang lain untuk mencari rizki. Para petanipun sudah mulai giat dengan paculnya untuk bergelut dengan Lumpur. Mereka sangat rajin tanpa banyak yang harus mereka pikirkan. Lelaki itu mencoba untuk belajar dari petani itu seperti syair lagu Ebiet G Ade..”…Sesungguhnyalah aku ingin belajar sikap mereka menjalani hidup…angin tolonglah   bawakan aku …sepotong kertas dan pena tajam….akan kutulis tebal-tebal pelajaranmu lewat diam…”
“Sahabat,..ini kutuliskan cerita pendek untuk kita jadikan bahan renungan  kita. Ternyata masih banyak yang harus kita teruskan., jangan berputus asa,..” Gumam lelaki itu sembari memperhatikan petani itu yang sedari tadi bersatu dengan dinginnya pagi. Sementara semilir angin terus membawa suasana yang begitu dingin. Lukisan alam pegunungan menambah keharmonisan suasana pagi yang nampak berseri.
“Punteen ?!…”  Sapa seorang perempuan istri petani kepada lelaki itu yang sedang terpana oleh lamunannya. “ Oh,.iya,..silakan bu,.. “  jawabnya dengan sedikit gugup. Dihisapnya sebatang rokok kretek yang sudah mulai pendek.
Lelaki itu kemudian berjalan dipematang sawah , tiba-tiba ia berjumpa dengan seorang gadis kecil yang sedang membantu orang tuanya. Matanya begitu lugu, polos dan penuh barsahaja.   “ Wach,.. rajin sekali de’…sedang membantu abah yach ?…”   Sapa  lelaki itu kepada gadis kecil yang nampak begitu malu-malu dan hanya  menundukan kepala memberi isyarat sembari tersenyum kecil.
Gadis kecil itu baru berusia  sembilan tahun tapi ia begitu  lihai dan penuh  bersahaja tanpa menuntut apa-apa  dalam membantu  orang tuanya disawah maupun diladang. Hampir semua anak-anak  baik laki-laki maupun perempuan  didesa itu begitu antusias dan dan rajin tanpa mengenal panas  atau udara dingin. Tidak seperti yang sering lelaki itu lihat  selama ini kebanyakan anak-anak  kota jam-jam seperti itu masih asyik bergeliat diatas kasur empuk atau bermalas-malasan didepan televisi apalagi pada hari minggu seperti ini sungguh jauh berbeda.
****
Ia masih duduk kedinginan diteras rumahnya,ditatapnya dalam-dalam apa yang ada didepannya. Memang nampak begitu asri tapi apakah lelaki itu sedang menikmati atau jauh lamunannya kesuatu tempat, yang pasti lelaki itu nampak bingung apa yang harus ia lakukan untuk bercerita tentang hidup. Masih terngiang  ditelinganya keputusan management yang diterimanya tentang keputusan sepihak yang menyebabkan lelaki itu terpaku dan kehilangan pekerjaannya. Meskipun baru mempunyai seorang anak tapi lelaki itu tetap saja merasa seperti kehilangan, was-was dan berbagai macam pikiran yang menghantuinya.
“ Beginikah sikap pemerintah yang tak mau membela rakyat kecil dan selalu  melihat sepihak demi keuntungan  belaka hingga nasib kami tergadaikan…”.  Lelaki itu terus mengerutu memaki dan menyalahi sesuatu yang sudah terjadi pada dirinya. Itulah faktanya sejak peraturan outsorcing deberlakukan yang selalu membela  para pengusaha tanpa memikirkan dampak  sosialnya terhadap buruh kontrak yang jelas nasibnya tergadaikan oleh permaianan  para elit yang berkepentingan. Tak heran banyak orang seperti lelaki itu yang terabaikan  nasibnya demi perjuangan keluarganya yang terdesak oleh kebutuhan ekonomi yang tak jelas.
“ Jelas menatap awan berarak/ Wajah murung semakin terlihat/ Dengan langkah gontai tak terarah/ Keringat bercampur debu jalanan,….” Syair lagu itu pun terus melantun terdengar diruang kamar seorang lelaki. Matanya masih berkaca-kaca memandangi gadis kecilnya yang baru saja merengek minta uang jajan. Batinnya sangat pedih tapi ia tak mau menampakan keresahan hatinya pada gadis kecilnya yang mungil dan lucu. Sesekali gadis kecil kesayangannya itu menatap sang ayah yang belum beranjak dari duduknya. Mungkinkah gadis kecil itu sudah mengerti kalau ayahnya sedang bingung?…Meski ia tahu dan sering menasehati dalam ceritanya ataupun dalam filosofnya tentang arti hidup yang harus dijalani. Tapi ia tetap manusia biasa yang terkadang goyah oleh keadaan.
Banyak cerita yang sudah ia tulis, banyak pengalaman yang sudah ia alami. Lelaki itu tetap saja merasa kebingungan untuk melangkahkan kelanjutan hidup. Karena ia tahu hidup ini bukan hanya filosof atau juga cerita tapi perlu  makan dan hidup seperti  yang diinginkan tapi jangan seperti para koruptor.
Cerita pendek ini ditulis untuk seorang sahabat, untuk kita yang sedang bingung, mari coba kita pelajari lagi arti yang sebenarnya tentang hidup. Jangan goyah,..hidup harus kita jalani seperti yang sudah digariskan Tuhan. Mari coba kita memohon padanya, jadikan semua pelajaran bagi kita,…lihatlah burung-diluar sana. Mereka tetap  diberikan rizki oleh Tuhan.
Lihatlah para petani diladang, mereka tak  memiliki gaji tapi mereka bisa bertahan dan menafkahi keluarganya. Meski hidup dalam kesederhanaan dan sangat bersahaja. Perjalanan hidup seseorang sudah ada yang mengatur,besok begini dan lusa lain lagi.
Jangan kita terpuruk oleh keadaan. Masih banyak yang harus kita benahi, mulailah dan awali dengan nyanyian angin pagi atau musik manis agar kita tetap hidup penuh dengan senyum.
Lihatlah pejuang-pejuang hidup, musisi jalanan,pedagang asongan dipinggir –pinggir jalan dengan gigihnya mempertahankan hidup. Kita diberi akal dan fikiran oleh Tuhan agar kita bisa membawa diri ini  untuk tetap hidup. Coba kita tengok  Adam  dan Hawa diturunkan kebumi ini tanpa dibekali apa-apa oleh Tuhan  tapi mereka tetap bertahan dan berjuang sampai akhirnya kembali bertemu.
“ Istriku,..marilah kita berdoa,..sperti yang pernah ibu     ajarkan,..Tuhan bagi siapa saja…lihatlah anak kita terdidur  dipingir jalan,…erat memeluk guling menahan lapar…esok hari..masilah teramat panjang…mari tidurlah lupakan sejenak  beban derita…”  Demikian syair lagu Ebiet G Ade menasehati istrinya tentang perjuanagan hidup.
****
Secangkir kopi hangat baru saja diserudup oleh lelaki itu diteras depan rumahnya. Pagi ini ia mulai merasa tenang setelah solat dhuha yang baru saja ia kerjakan. Segala daya upaya telah ia serahkan pada yang yang memiliki hidup. Tuhan bagi siapa saja dengan meminjam syair lagu, ia panjatkan doa untuk bertekwakal, sebab hidup ini harus dilanjutkan dan perahu yang sudah ada ditengahlautan harus dipertahankan jangan sampai goyah atau terombang-ambing ditelan ganasnya badai.
Dengan bermodal cinta kepada sibuah hati lelaki itu bertekad akan terus berjalan mempertahankan hidup. Jadi apa saja demi  perjuangan hidup.
“…sahabat, seorang lelaki tidak boleh takut akan hidup, jangan kita terlena oleh keadaan, mari kita bangkit.  Seorang lelaki harus berani mempertahankan hidup. Seorang lelaki bisa jadi apa saja, jadi petani,pedagang, penulis meskipun hanya menjual mimpi lebih baik usaha dari pada tidak. Arswendo pernah berkata mengarang lebih mulia dari pada menganggur….”
Demikian  lelaki itu mengakhiri ceritanya sembari menyerudup kopi hangat yang sedari tadi mulai dingin. Angin  pagipun mulai berhembus membisikan pada suasana hati bahwa hidup masih panjang bersama perejalanan waktu yang akan bercerita tentang nyanyian angin pagi.
Selesai.
_____________________________________________________________________________________
Saat ini penulis sedang mempersiapkan buku kumpulan Cerpen dan Puisinya, kontak penulis : twitter @JournalistCtzn. Ilustrasi courtesy of : wordpres.com

Tuesday, 9 August 2011

kumpulan cerita perjuangan islam kisah perjuangan muslim cerita-cerita perjuangan islami kisah-kisah perjuangan tokoh islam


Abbas bin Abdul Muththalib

“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang”. (Q.,s. al-Anfaal : 7)
Menurut beberapa orang ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib, Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu
Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.”
Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai’at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.
Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pemah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan, maka iapun menepati nazamya itu
Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibu Si Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan haji wada’-nya. Ia meninggal dunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut ; yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma’bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan murah hati meninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Para ahli sejarah berbeda keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katanya, ia memberitakan kegiatan kaum musyrikin kepada Nabi di Madinah, dan kaum muslimin yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah menyatakan, “Kau lebih baik tinggal di Mekah “.
Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi’, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya.”
Ia selalu menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ka’bah. Ka’ab bin Malik mengutarakan, “Kami (saya dan al-Barra’ bin Ma’rur) mencari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah. Ia balik bertanya, ‘Apakah kalian berdua mengenalnya?’ Kami menjawab, ‘Tidak!’. Ia lalu bertanya, ‘Kalian mengenal Abbas bin Abdul Muththalib, pamannya?’
Kami menjawab, ‘Ya!’ Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan.
Orang tadi lalu berkata, ‘Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!”.
Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di sebelahnya”.
Abbas radhiallahu ‘anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam baiat al-Aqabah. Ia orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata :
“Wahai kaum Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya. Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, rembukkanlah antara kalian dengan mufakat dan sepakat bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur.”
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka. Ia lalu berkata lagi, “Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?”.
Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, “Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami”.
Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, “Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?”.
“Ya, lengkap,” jawab mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah bersabda, “Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam., janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa”.
Keterangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah, yang berucap dengan lantang, “Kami membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan Abbas? Demi Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!”
Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam., lalu beliau berkata kepada Umar ibnul Khaththab, “Ya Aba Hafsah,ada juga orang yang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!”
“Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik,” ucap Umar.
Akan tetapi, Rasulullah tidak membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternayta, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataanya, “Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah kaku yucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!” Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang Yamamah.
Pada suatu hari, Abbas pergi berhijarah ke Medinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.telah membemberikan sebidang tanah kepadanya berdekatan dengan tempat kediamannya.
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Di Madinah terjadi pertengkaran antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliah, di mana orang itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas terjadi berualng-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang itu tidak senang hati, mereka siap-siap akan menuntut balas. Mereka berkata, “Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara kami!”
Ancaman mereka itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu beliau mengumpulkan kaum muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata’âla dan bersabda, “Wahai para hadirin, tahukah kalian, siapa orang yang paling mulia di sisi Allah Subhânahu wata’âla?”
“Engkau, ya Rasulullah!” jawab hadirin.
“Tahukah kalian bahwa Abbas itu dariku dan aku darinya? Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup.”
Kabilah orang itu datang mengahadap Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, kami mohon perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah.”
Pernyataan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tersebut menguatkan keterangan Abu Majas radhiallâhu ‘anhu. tentang sabdanya, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakitinya sama dengan menyakitiku.”
Pada suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dan bermohon dengan penuh harap, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?”
Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan; ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. Ia menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian, “Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan.”
Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam., tetapi malah Ali bin Abi Thalib radhiallâhu ‘anhu yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, “Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!”
Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya ,”Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang.”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia tidak diberi kesemopatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.
Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, “Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Menjawab, “Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!”
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Sesudah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.menuiakan risalah Alalh Subhânahu wata’âla dengan baik, manyampaikan agamaNya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke rahmatullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu.
Abbas hidup terhormat di bawah pemerintrahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu..
Tiap kali Khalifah hendak ke masjid ia selalu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu menumpahkan airnya dan mengenai pakaian Umat. Ia kembali pulang untuk mengganti pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dibuka. Sesudah beliau selesai shalat, datanglah Abbas seraya berkata, “Demi Allah, pancuran itu diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam..”
Khalifah Umar menjawab, “Aku mohon kepadamu supaya engkau memasang kembali pancuran itu di tempat yang diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan menaiki pundakku.”
Abbas menerima baik harapan Umar untuk memperbaiki kesalahannya itu.
Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam itu.
Masjid Nabawi di Madinah kian hari kian menjadi kecil karena bilangan kaum muslimin dari hari ke hari makin bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengna membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdullah Muththalib. Apa mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima harga ganti ruginya?
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Khalifah Umar datang menemuinya seraya berkata, “Ya Abal Fadhal, engkau lihat, masjid sudah sempit sekali karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada disekitarnya untuk memperbesar bangunan masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mu’minin yang belum. Kalau kamar-akmar Ummuhatul Mu’minin rasanya tidak mungkin kami membeli dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid.”
Abbas menjawab, “Aku tidak mau.”
Umar berkata; “Pilihlah satu diantara tiga: engkau menjual berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan lain yang akan aku bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang engkau kehendaki, atau engkau berikan sebagai sedekah kepada muslimin untuk meluaskan masjid mereka.”
Abbas berkeras, “Aku tidak mau terima semaunya.”
Umar berharap, “Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.’
Abbas menjawab, “Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka’ab.”
Keduanya pergi menemui Ubai bin Ka’ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya.
Ubai berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Subhânahu wata’âla pernah mewahyukan kepada Nabi Daud, ‘Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.’ Nabi Daud lalu merencanakan pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu mengenai rumah seorang Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan paksa. Allah Subhânahu wata’âla lalu mewahyukan kepadanya, ‘Hai Daud, aku menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku pemaksaan itu bukan watak-Ku. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah membangunnya!’ Nabi Daud menjawab, ‘Ya Allah, aku lakukan pada anakku!’ Allah berfirman lagi, ‘Siapa anakmu?”"
Khafilah Umar tidak bisa lagi menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka’ab dan menggiringnya ke masjid seraya berkata, “Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum muslimin!”
Ia membawanya ke tengah-tengah halaqah yang diselenggarakan shahabat Rasulullah di masjid Nabawi, dimana antara lain terdapat Abu Dzar radhiallâhu ‘anhu.Umar lalu berkata kepada para hadirin, “Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang mendengarkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.berbicara tentang Baitul Maqdis, ketika Alalh memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan rumah-Nya tempat orang menyebut-nyebut namaNya?”
Abu Dzar radhiallâhu ‘anhu menjawab’ “Ya, saya mendengar!” Disambut oleh yang lain, “Ya, saya juga mendengar!” Dari sudut sana ada pula yang menyambung, “Saya juga mendengar!”
Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu lalu berkata kepada Abbas radhiallâhu ‘anhu, “pergilah! Aku tidak akan menuntutmu membongkar rumahmu.”
Abbas radhiallâhu ‘anhu berkata, “Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan untuk kepentingan kaum muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi, kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan mengalah.”
Memang Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi, apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. Ia harus tunduk dan menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar berjuang demi kesehjahteraan kaum muslimin, maka ia pun memutuskan untuk menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum muslimin.
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Demikian tokoh-tokoh model “sekolah Rasulullah” dan “sekolah Al-Qur’anul Karim” radhiallahu ‘anhum ajma’in. Mereka angkatan kaum muslimin yang pertama, yang telah membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, yang telah membangkitkan peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju dan mengenali peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.
Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada muslimin yang berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka’ab masuk menemui Khalifah Umar seraya mengutrarakan, “Ya Amirul Mukminin, biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka.”
Umar berakta, “Ini dia paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan bani Hasyim.”
Khalifah Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu, kemudian ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, “Ya Allah, kami menghadapkan diri kepadaMu bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!”
Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata’âla, “Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu”.
Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu yang tidak bicara, atas nama hewan ternak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan berputus asa dengan rahmat karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir.”
Ternyata doanya itu langsung diterima dan disambut Allah Subhânahu wata’âla. Hujan lebat turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah Subhânahu wata’âla dan mengucapkan selamat kepada Abbas, “Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Mekah dan Madinah.”
Abbas hidup terhormat, baik oleh kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun dari kendaraannya, seraya berkata, “Paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.!”
Sudah menjadi sunnatullah, setiap permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian pula dengan Abbas radhiallâhu ‘anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali ke rahmatullah menyusul keponakkannya Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam usia 82 tahun, dan dikebumikan di al-Baqi’ di Madinah, rahimullah wa radhiallahu’anhu.
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Sebab Turunya Ayat
Dalam Perang Badar yang berkecamuk antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Abbas berhasil ditawan oleh Abul Yusr, Ka’ab bin Amru, yang menurut Ahli sejarah kedua tangannya kurus dan perawakannya juga lemah, sedangkan Abbas seorang yang tinggi besar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bertanya keheranan, “Ya Abal Yusr, bagaimana kau bisa menawan Abbas?”
“Ya Rasulullah, aku dibantu oleh seorang yang belum pernah kulihat sebelum dan sesudah itu (lalu ia mengutarakan ciri-ciri dan perawakan orang itu),” jawab Abul Yusr.
“Kau dibantu oleh seorang malaikat yang pemurah,” sabda Rasulullah.
Ketika Abbas jatuh sebagai tawanan, pertanyaan pertama yang terlontar adalah tentang keadaan Muhammad kepada yang menawannya, “Bagaimana keadaan Muhammad dalam peperangan ini?”
“Allah memuliakan dan menenangkannya,” jawabnya.
“Segala sesuatu selain Allah rusak. Kini, apa maumu?” tanya Abbas
“Rasulullah melarang kami membunuhmu,” jawabnya.
“Itu bukan kebaikannya yang pertama.”
Abbas diborgol dan dikumpulkan bersama tawanan perang lainya. Kiranya, ikatannya terlalu keras sehingga ia merintih kesakitan. Ternyata rintihan itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Beliau gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya. Berapa orang shahabat yang melihatnya belum tidur, menegurnya, “Wahai Nabi Allah, sudah jauh malam, engkau belum tidur?”
“Aku mendengar riuntihan Abbas,” jawab Nabi.
Orang itu lalu pergi melonggarkan ikatannya, kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.bertanya lagi, “Mengapa sekarang aku tidak mendengarkan rintihannya?”
“Aku longgarkan ikatannya, ya Rasulullah,” jawab shahabat
“Lakukanlah juga terhadap semua tawanan lainnya,” perintah Nabi.
Pagi harinya, semua tawanan dihadapkan kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Akhirnya, sampai giliran Abbas.
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Abbas, tebuslah dirimu dan keponakanmu aqil bin Abi Thalib, Naufal bin al-Harits, dan teman karibmu Utbah bin Amru bin Jahdam karena engkau seorang kaya.”
“Ya Rasulullah, saya ini seorang Muslim, tetapi saya dipaksa ikut berperang oleh mereka,” ucap Abbas.
“Allah saja yang Maha Tahu dengan keislamanmu itu: kalau pengakuanmu itu benar, Allah akan mengganjarmu, namun aku melihatmu dari segi lahirmu maka bayarlah tebusanmu itu.”
‘Aku tidak mempunyai uang, ya Rasulullah.”
“Mana uang yang kau simpan pada Ummul Fadhal, isterimu, ketika kau hendak keluar ikut berperang, lalu pesanmu kepadanya, ‘Kalau aku tewas dalam peperangan, uang itu dibagi-bagikan antara kau, Fadhal, Abdullah, Ubaidullah, dan Qatsam.’?” tanya Rasulullah.
“Dari mana kau tahu ini padahal aku tidak pernah memberitahukan hal itu kepada siapa pun?” tanya Abbas keheranan.
“Allah Subhânahu wata’âla Yang memberitahukan rahasiamu itu,” jawab Nabi.
“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau benar-benar rasul Allah, bahwa kau seorang yang jujur.”
Pada saat itu, turunlah firman Allah Subhânahu wata’âla.
“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu:”Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.,S. al-Anfal: 70)
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam
—————————
Abbas berkomentar, “Allah berkenan menepati janji-Nya kepadaku, memberikan kebaikan lebih dari apa yang diambil: 20 uqiyah diganti dengan 20 orang budak. Kini, aku sedang menantikan pengampun-Nya. Aku diberi kuasa mengurus air zamzam dan aku bisa merasa bangga lebih dari itu, meskipun aku memiliki semua harta penduduk kota Mekkah. Kini, aku sedang menantikan pengampunan-Nya.”
Akan tetapi, darimana ia memiliki harta bila membeli dua puluh orang budak dan tiap budak memiliki modal edar yang diperdagangkan?
Ibnu Sa’ad dalam bukunya, ath-Thabaqat al-kubra, menyebutkan bahwa al-Ala’ bin al-Hadhrami mengirimkan kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Harta benda sebanyak 80.000. Belum pernah Nabi menerima lebih dari itu. Kemudian Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengundang kaum muslimin. Begitu mereka melihat timbunan harta itu, penuh sesaklah masjid dengan orang-orang. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan hartra itu seolah-olah tanpa perhitungan dan pertimbangan, masing-masing diberikan segenggam.
Abbas datang, lalu berkata kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam., “Ya Rasulullah, aku telah memberikan tebusanku dan tebusan Aqil bin Abi Thalib dalam perang Badar. Aqil tidak punya uang penggantinya. Berikan aku dari uang ini!”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tertawa lebar sehingga terlihat gigi taringnya, lalu bersabda, “Harta itu diambil seperlunya; yang lain dikembalikan!”
Ia lalu pergi dengan mengambil seperlunya, seraya berucap, “Janji Allah kepadaku, yang satu sudah ditepati dan yang lain aku belum tahu!”
Renungan
Abas bin Abdul Muththalib radhiallâhu ‘anhu, paman Rasululah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan saudara kandung ayahnya, termasuk salah seorang tokoh shahabat yang ikut mengibarkan panji Islam dan menyebarkan dakwahnya.
Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam baiat al-Aqabah al-Kubra, ia bertindak sebagai seorang penasihat dan perunding ahli, menyertai keponakannya dalam majelis itu, membentangkan sikapnya dengan tepat, dan mengamati sikap kaum Anshar yang hendak menerima kedatangannya ke Madinah dengan cermat.
Ia memberikan gambaran kepada mereka akan bahaya dan resiko yang akan mereka hadapi sepanjang hidup mereka jika menerima Muhammad Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Bangsa Arab tidak akan membiarkan Muhammad dan dakwahnya berkembang dengan mulus kecuali kalau mereka terpaksa.
Pada akhir perundingan, sesudah ia yakin bahwa kaum Anshar dari Yastrib itu terdiri atas para pahlawan yang berbudi luhur yang bisa dipercaya dan menerima keponakannya, barulah ia bangkit mempertemukan tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan tangan wakil kaum Anshar itu sebagai tanda baiat disetujui dan janji setia dimulai, disertai doa harap kepada Allah Subhanahu wata’ala mudah-mudahan persekutuannya yang luhur akan melindungi agama-Nya dan Dia memberi taufiq dan hidayah-Nya.
Ketika Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Hijrah ke Yastrib, Abbas menyatakan hasratnya akan menyusul ke sana. Akan tetapi, beliau mencegahnya dan menganjurkan supaya tinggal di Makkah saja dulu supaya bisa mendukung semangat kaum mustadh’afin di Mekah yang belum bisa hijrah meninggalkan Mekah.
Abbas patuh kepada perintah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Itu. ia tinggal di Mekkah bersama kelompok kaum muslimin yang belum sanggup pergi berhijrah, menyiapkan kesempatan dan bekal mereka, menutup utang-utang mereka, mengamati gerak-gerik kaum Quraisy supaya selalu diketahui Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.dan tidak bisa mengadakan serangan mendadak kepada mereka.
Pada permulaan Islam, Abbas banyak melunasi utan kaum muslimin yang fakir misjkin. Pada zaman kita sekarang ini, alangkah perlunya kita kepada seorang Abbas modern yang sudi menyelamatkan umat agar tidak menjadi mangsa pengikut komunis dan kapitalis Barat, dan berdiri tegak membendung invasi ideologi dan kristenisasi di kalangan kaum muslimin.
Ia menjadi tawanan dalam Perang Badar, ia diborgol dan diringkus bersama tawanan yang lain. Ketika borgolnya dilonggarkan, para tawanan yang lain pun harus dilonggarkan.
Tawanan lain harus, membayar uang tebusan, Abbas pun harus membayar uang tebusan diri dan keluarganya. Itulah Islam, tidak ada sistem famili atau keluarga, tidak mengutamakan kawan atau kenalan. Tolak ukur keutamaan seseorang hanyalah karena ketakwaan dan amal salehnya.
Pada suatu hari, Khalifah Umar ibnul Khaththab yang terkenal sebagai penakluk kekaisaran Romawi dan Persia itu, mencabut pancuran air dari rumah Abbas. Sesudah diberitahukan bahwa pancuran itu dahulu dipasang oleh kedua tangan Rasulullah sendiri. Umar menggigil ketakutan; apakah ia akan menyingkirkan apa yang diletakkan Rasulullah? Beranikah ia membongkar apa yang dibangun Rasulullah? Umar resah dan gelisah atas perbuatannya. Ia mengumpat dan mengutuk kelancangannya itu. Barulah ia puas sesudah Abbas menerima baik sarannya untuk mengembalikan pemasangan pancuran.
Tiba giliran Umar untuk memperluas masjid Nabawi. Sebagai khalifah kaum muslimin, sebagai panglima Angkatan Perang Islam, ia mempunyai kekuatan penuh untuk merampas dan mengganti rugi dari Baitul mal, demi kepentingan kaum muslimin, selama tidak bertentangan dengan hukum agama.
Sikap Umar untuk menggusur rumah Abbas itu rupanya kurang berkenan di hatinya, meskipun ia akan diganti rugi. Ia tidak mau menjual apa yang diberikan Rasulullah itu dan tidak sudi menerima ganti ruginya. Ia berikan sebagai sedekah karena Allah, demi kepentingan kaum muslimin, sesudah Umar bersikap lemah-lembut tidak disertai paksaan dan kekuasaannya.
www.alsofwah.or.id
————————–
kumpulan cerita perjuangan islam – kisah perjuangan muslim – cerita-cerita perjuangan islami – kisah-kisah perjuangan tokoh islam